\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google<\/em> atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media.\u00a0Some people say\u00a0<\/em>Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia,\u00a0huft<\/em>\u00a0seperti berlebihan walau nampaknya\u00a0sih<\/em>\u00a0tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi,\u00a0maybe<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.<\/p>\n\n\n\n

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin\u00a0Cairina Moschata<\/em>\u00a0yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma\u2019shun Medan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya<\/em>, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.<\/p>\n\n\n\n

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban Lounge<\/em>. Disclaimer<\/em>, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review<\/em> salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching<\/em> sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge<\/em> besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge<\/em>. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?<\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja. <\/p>\n","post_title":"Smoker Travellers: Menemukan \"Jaksel\" di Kota Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travellers-menemukan-jaksel-di-kota-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-12 08:48:55","post_modified_gmt":"2019-11-12 01:48:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6223","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n

Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n

Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n

Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n

Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah  Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah  yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};