\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n

Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n

Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin?   <\/p>\n\n\n\n

Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n

Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n

 Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n

Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n

\u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n

Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik.
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n

Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!!
<\/p>\n\n\n\n

Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah.
<\/p>\n\n\n\n

Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren?
<\/p>\n\n\n\n

Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5608,"post_author":"883","post_date":"2019-04-06 10:33:47","post_date_gmt":"2019-04-06 03:33:47","post_content":"\n

Perokok<\/a> acapkali dicap sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh perilaku merokok sembarangan, petantang-petenteng ketika merokok, dan abai terhadap lingkungan sekitar. Padahal sebagai konsumen yang baik, tentu perokok seharusnya bertanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu cara agar perokok memiliki sikap bertanggung jawab atas barang konsumsinya adalah dengan menerapkan perilaku perokok etis. Berikut adalah langkah-langkah menjadi perokok etis:
<\/p>\n\n\n\n

1. Tidak Merokok<\/a> Saat Berkendara<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan perilaku merokok saat berkendara. Sebab sangat banyak mudarat yang diakibatkan atas perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n

Pertama, merokok<\/a> saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal.
<\/p>\n\n\n\n

Aturan larangan merokok saat berkendara sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini sudah tepat dikeluarkan, meskipun dalam point sanksi sangat berlebihan karena memuat sanksi pidana dan denda yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Maka perilaku tidak merokok saat berkendara sudah seharusnya diterapkan oleh perokok untuk membuktikan bahwa perokok menjunjung tinggi nilai etis, dan dapat bertanggung jawab tanpa harus diancam sanksi pidana maupun denda.
<\/p>\n\n\n\n

2. Tidak Merokok di Dekat Anak Kecil<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Merokok adalah kegiatan konsumsi yang boleh dilakukan oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Maka perilaku merokok di dekat anak kecil bukanlah sebuah perilaku yang bertanggung jawab dari seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang perokok yang bertanggung jawab juga tentu tidak akan menawarkan rokok apalagi mengajarkan kebiasaan merokok kepada anak di bawah umur 18 tahun. Biarkanlah anak-anak kecil dan anak di bawah umur 18 tahun menentukan keputusan mereka untuk mengonsumsi rokok atau tidak ketika mereka sudah cukup umur.
<\/p>\n\n\n\n

3. Tidak Merokok di Dekat Ibu Hamil<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Merokok di dekat ibu hamil adalah sebuah perilaku yang buruk. Ibu hamil mana yang tidak risih, ketika berada di tempat umum yang seharusnya mereka bisa santai atau istirahat sejenak tapi kemudian terusik karena asap rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi para ibu-ibu hamil ini memiliki fase kondisi tubuh dan pikiran yang berbeda dengan orang normal pada umumnya. Ibu hamil biasanya memiliki kondisi fisik gampang drop, wong kadang-kadang mereka tau-tau muntah. Dalam hal psikologis juga berbeda dengan orang normal pada umumnya, ibu hamil biasanya memiliki sensitivitas yang tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebagai perokok etis, menjunjung tinggi kehormatan perempuan mutlak dimiliki, maka perilaku tidak merokok di dekat ibu hamil adalah kewajiban bagi perokok etis.
<\/p>\n\n\n\n

4. Merokok di Ruang Merokok<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kesadaran berbagi hak merupakan fondasi penting bagi perokok etis. Dengan merokok di ruang merokok, tentunya akan menciptakan kesadaran bagi perokok untuk menghargai hak bukan perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Merokok di sembarang tempat mengabaikan orang lain di sekitarnya yang bukan perokok bukanlah ciri perilaku yang bertanggung jawab. Adanya wilayah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus dianggap sebagai sense kesadaran berbagi ruang terhadap orang lain. Hormatilah dengan tidak merokok di wilayah KTR. Namun perokok juga harus protes jika tidak ada penyediaan ruang merokok di tempat umum dan tempat umum lainnya di wilayah KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Nah di atas tadi merupakan langkah-langkah yang wajib diterapkan oleh para perokok agar menjadi perokok etis. Dengan menjadi perokok etis, para perokok dapat menepis stigma negatif yang dilekatkan kepada perokok, dan tentunya juga dapat menjadi tonggak bagi perjuangan perokok melawan diskriminasi terhadap Industri Hasil Tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Pertama: Merokok di Ruang Merokok yang Telah Disediakan
<\/h3>\n\n\n\n

Bulan Ramadhan kerap kali dimeriahi dengan buka bersama alias bukber , tanpa bukber kadang rasanya kayak ada dua-tiga orang merokok tapi tidak ada asbaknya. Maka tak heran tempat-tempat makan, tempat kerja, ruang publik lainnya menjadi tempat untuk berbuka puasa bersama. Nah saat berbuka di tempat-tempat inilah perokok harus melihat apakah tempat tersebut menyediakan ruang merokok atau tidak. Sehabis berbuka puasa, setelah hampir tiga belas jam lamanya perokok menghentikan sementara aktivitas merokoknya, tentu merokok masuk ke dalam daftar menu berbuka puasa. Tapi jangan berpikiran bahwa perokok ketika waktunya berbuka langsung merokok loh ya. Pasti minum air putih terlebih dahulu, makan takjilan dulu, karena perokok bukan onta yang minum sama makannya irit-irit.
<\/p>\n\n\n\n

Minum dan makan takjil sudah, barulah waktunya untuk membakar sebatang rokok. Banyak juga yang merokoknya ditunda dulu sampai sehabis salat taraweh. Semua tergantung kebutuhan. Tapi bagi perokok yang menyegerakan waktu merokoknya, di tempat buka puasa bersama, perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak asal sembarangan merokok. Tentulah akan merokok pada tempat yang telah disediakan. Karena konsep etis dan rahmatan lil alamin adalah tidak berlaku dzolim. Bertindak secara proporsional, itu intinya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua: Berbagilah dengan Sesama
<\/h2>\n\n\n\n

Tagline indahnya berbagi di bulan Ramadhan biasanya sering bermunculan. Meskipun itikad berbagi bukan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja, namun tagline tersebut patut pula menjadi renungan dan diwujudkan dalam laku sosial kita, agar terlatih menjadi manusia yang lebih baik pada bulan-bulan selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berbagi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Berbagi api, dengan meminjamkan korek misalnya, berbagi asbak, dengan tidak mengakuisisi asbak, berbagi rokok, bukan berarti rokok sebatang dihisap keliling loh ya, selebihnya kita bisa berbagi hikmah Ramadhan, berbagi pengalam seharian berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Saat berbuka puasa seringkali pula perokok kelupaan membeli rokok karena tak punya stok yang disimpan. Menawari apa yang kita miliki, bilamana itu berupa rokok, korek, maupun asbak, tawarkanlah. Dari sisi itu terdapat ciri insan yang memiliki spirit berbagi, selain sebagai wujud solidaritas juga upaya menjalin silaturahmi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga: Berpuasalah di Bulan Ramadhan
<\/h2>\n\n\n\n

Selain membuktikan bahwa rokok bukan sesuatu yang adiktif, berpuasa di bulan Ramadhan adalah seruan agar kita lebih bertakwa kepada sang Maha Pemberi Rahmat. Labeling adiktif terhadap perokok jelas sudah terbantahkan dengan sendirinya ketika perokok berpuasa di bulan Ramadhan. Tudingan adiktif tersebut menjadi tidak relevan, ketika perokok sanggup menahan aktivitas merokoknya selama tiga belas jam lebih. Meskipun banyak juga perokok yang berbulan-bulan lamanya sanggup tidak merokok. Juga penelitian-penelitian bantahan yang mengatakan tidak tepat memberikan label adiktif terhadap perokok, karena berhenti merokok sangat mudah dilakukan oleh perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, perokok akan menuai hikmah bahwa hidup bukan hanya perkara makan dan minum. Ada nilai sosial yang luar biasa terkandung di dalamnya, selain juga nilai ibadah mahdhoh tentunya. Tanpa melihat status dan golongan, puasa membuat kita saling memahami bahwa manusia setara dalam hak dan kewajibannya kepada Tuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Puasa tidak memandang dia perokok atau bukan, ketika seruan berpuasa datang, semuanya menanggalkan semua atribut keduniawian untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah. Sesungguhnya Ibadah adalah hakikat dan tujuan penciptaan jin dan manusia. Dalam Q.S. 56 (Ad-Dzariat : 56)
<\/p>\n\n\n\n

Nah tiga langkah tadi dapat kita terapkan di sisa-sisa penghujung Ramadhan ini. Mari sama-sama kita tunaikan dengan itikad ketaatan dalam mencapai kesalihan sosial serta kesalihan spiritual, sebab menjadi perokok etis yang rahmatan lil alamin tidak hanya sebatas ucapan belaka, tapi bersesuainya ucapan dan perbuatan. Bukankah konsep keseimbangan sudah sejak dulu ditanamkan oleh leluhur kita. Termasuk berlaku seimbang dalam konteks konsumsi.
<\/p>\n","post_title":"4 Langkah Menjadi Perokok Etis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"4-langkah-menjadi-perokok-etis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-06 10:33:50","post_modified_gmt":"2019-04-06 03:33:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5608","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};