REVIEW

Nasib Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik

cengkeh

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan whatsapp di telepon seluler saya. Pesan whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga Ia sangat sulit dihubungi.

Pesan whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan, dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian di Desa Munduk.

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.

“Hasil cengkeh tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.” Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. “Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.” Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW