OPINI

Mulanya Obat, Lantas Distigma Sumber Banyak Penyakit

Saya tidak tahu ini semua bermula sejak kapan, tetapi yang saya tahu, rokok dan aktivitas merokok kerap kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab ragam bentuk penyakit yang diderita manusia. Ada saja cara ‘utak-atik gatuk’ yang dipakai mereka yang kebenciannya sudah sampai tulang sumsum terhadap rokok untuk menjadikan rokok sebagai biang keladi penyebab ragam bentuk penyakit.

Hampir segala jenis kanker, mulai dari kanker paru-paru, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, kanker otak, dan kanker-kanker lainnya, kalau bukan sebagai penyebab utama, rokok dan aktivitas merokok turut disertakan sebagai salah satu sebab penyakit itu menimpa manusia.

Di luar penyakit kanker, ada terlalu banyak penyakit di luar sana yang menunjuk rokok sebagai biang keladi penyakitnya. Sampai-sampai, ada guyonan dari kami para perokok, jika mengetahui ada penyakit baru lantas bertanya, “rokok sudah dijadikan salah satu penyebab penyakit itu belum?”

Di antara sekian banyak penyakit di mana rokok dianggap menjadi salah satu sebab keberadaan penyakit itu menyerang manusia, memang sudah ada penelitian ilmiahnya, tetapi sebagian kecil saja. Sisanya, hasil-hasil riset pseudo-science atau malah sekadar asal tuduh sembarangan saja.

Saya heran, sebegitu bencinya mereka terhadap rokok hingga menyerang rokok dengan membabi-buta. Tanpa perlu hasil riset yang kompeten, sekadar kata ini atau kata itu saja sudah cukup bagi mereka menyerang rokok, menistakan para stakholder pertembakauan dari hulu hingga hilir.

Rezim kesehatan, yang memang cukup ampuh guna menakut-nakuti seseorang, juga untuk mengajak orang lain berpihak karena rasa takut, sudah bertahun-tahun lamanya secara konsisten menghantam terus rokok dan aktivitas merokok. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang menghajar rokok baik itu aktivitas merokok, promosi rokok, juga produksi rokok, sebagian besarnya berlandaskan alasan dari rezim kesehatan ini.

Padahal sesungguhnya, salah satu awal mula keberadaan rokok di dunia dan juga di Nusantara, selain digunakan sebagai ritual-ritual spiritual serta bagian dari ritus-ritus tradisi, rokok dan aktivitas merokok digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Rezim kesehatan modern bekerja sama dengan industri farmasi pada akhirnya mampu mengubah secara drastis stigma terhadap rokok, dari yang tadinya sebagai sarana pengobatan, berubah menjadi sumber keberadaan penyakit.

Saat ini, dunia sedang dalam kepungan pandemi korona. Lebih dari 200 negara melaporkan pandemi ini sudah sampai di negara mereka. Lebih dua juta orang di seluruh dunia sudah terinfeksi. Angka kematian akibat virus korona ini tiap hari terus bertambah. Para ilmuwan mengatakan hari ini di beberapa negara masih tahap awal, belum mencapai puncaknya. Ini artinya masih akan ada lagi penambahan manusia yang terinfeksi virus ini ke depannya.

Lantas, apakah rokok sudah diikutsertakan dalam pendemi korona yang mewabah di dunia ini? Tentu saja sudah.

Dengan begitu cepat, lewat asumsi-asumsi belaka, rokok lagi-lagi turut disertakan sebagai kambing hitam wabah yang sumber utamanya zat renik bernama covid-19 ini. Belum terlalu lama korona menjadi pandemi, rokok lantas disalahkan. Mereka anti-rokok bilang orang yang merokok lebih rentan terkena virus korona dan bisa berakibat fatal jika sudah terkena virus korona. Mereka yang merokok lebih cepat mati jika terkena korona dibanding mereka yang tidak merokok.

Belum cukup sampai di situ, rokok bahkan diikutsertakan dalam pandemi ini untuk peran yang lebih jauh lagi. Adalah dokter Adib Khumaidi, wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang beropini bahwa asap rokok bisa menularkan virus korona. Menurutnya perokok yang positif korona, bisa menularkan virus lewat asap rokok. Luar biasa. Sesungguhnya itu sekadar opini saja, baru opini. Namun karena yang beropini seorang dokter, ini tentu saja jadi santapan empuk anti-rokok untuk kembali menghantam rokok.

Untungnya, opini ini buru-buru dibantah oleh Ketua Umum IDI, menurutnya belum ada penelitian yang menyebutkan asap rokok bisa menularkan virus korona. Jadi opini itu belum bisa dipercaya karena belum ada riset tentang itu.

Lantas, bagaimana jika ada riset yang hasilnya menyebutkan bahwa sejauh ini perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona? Yang artinya, aktivitas merokok mampu membantu seseorang terhindar dari efek buruk virus korona. Besok saya akan melanjutkan tulisan tentang ini di sini, hanya di bolehmerokok.com.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:OPINI