Revolusi Pertanian Era Suharto

Revolusi Pertanian Era Suharto

Suharto pernah merevolusi pertanian Indonesia. Nahasnya semua itu membuat malapetaka di kemudian hari.

Sudah lama nenek moyang kita bersahabat dengan tembakau. Selain dipercaya sebagai pembunuh kuman dan bakteri pada gigi dengan cara dibuat susur, tembakau bisa dipergunakan untuk menjauhkan lintah dari tubuh.

Bacaan Lainnya

Tembakau juga dimanfaatkan para petani sebagai salah satu bahan dalam pembuatan pestisida alami (organik) jauh sebelum Revolusi Hijau. Pada beberapa suku di tanah air kita, kretek selalu menjadi sajian utama dalam setiap upacara adat, ritual keagamaan maupun penyembuhan.

Jika mau jujur pada diri sendiri, sebenarnya banyak tanaman yang kita abaikan manfaatnya. Benalu contohnya, dianggap sebagai tanaman pengganggu karena menyebabkan tanaman inangnya tidak bisa berkembang dengan baik.

Tapi belakangan orang baru memahami manfaatnya. Benalu hanya mengambil bagian yang baik dari tanaman inangnya (sari pati tanaman), sehingga kemudian dijadikan bahan obat herbal.

Pada era sekarang, kultur lokal bersama kearifannya telah tergerus isu-isu global. Dan lagi-lagi kepentingan tuan-tuan dengan kekayaannya telah membeli pemimpin-pemimpin kita.

Kita bisa melihat dari aturan-aturan yang dikeluarkan pemerintah, yang tidak pernah jauh dari keinginan dan kepentingan kapital-kapital dunia. Tak jarang aturan lahir dari kesepakatan-kesepakatan bersama. Seperti yang kita tahu, sampai sekarang yang memiliki hak paten dan produksi dari produk kesehatan masih korporasi-korporasi internasional. Sehingga, karena perluasan pasar, sekarang kita menjadi tergantung pada obat-obat kimia.

Selain kapitalisasi bidang kesehatan ada revolusi pertanian di zaman Suharto yang hingga sekarang masih diadopsi. Awalnya revolusi itu usaha pengembangan teknologi pertanian yang alasannya bertujuan meningkatkan produksi pangan.

Lantas dari pertanian yang tadinya menggunakan teknologi tradisional menjadi pertanian yang menggunakan teknologi lebih modern dari alat, bibit, sampai pupuk dan pestisida. Dampak positifnya adalah petani yang dulunya panen padi setahun sekali bisa panen tiga sampai empat kali setahun. Usia tanam semakin pendek, dan Indonesia pun sempat swasembada pangan.

Bandingkan dengan dampak negatifnya, petani akhirnya wajib mempergunakan pupuk kimia, obat pestisida sintetis, dan benih hasil rekayasa genetika. Kemudian hilanglah benih lokal, dari padi bengawan, padi dara, mentik wangi, malaman, gondel, dan sebagainya, yang dulu menjadi kebanggaan kita. Benih-benih itu sekarang malah dimanfaatkan negara lain, dan kita harus impor.

Sekarang ini kita selalu dianggap bangga dengan produk budaya dan budaya asing. Benarkah seperti itu kondisinya? Pertanyaannya adalah, kalau benar, siapa sebenarnya yang mengajarkan? Promosi budaya, hasil-hasil pertanian dan hasil industri memang dilakukan pemerintah sendiri. Namun dengan melakukan impor barang sejenis yang diunggulkan.

Apakah promosi yang dilakukan dengan dana rakyat itu ada manfaatnya? Jika tidak ada perlindungan yang maksimal terhadap barang-barang dan produk lokal. Belum lagi perilaku legislator kita yang senang mengadopsi sesuatu dari luar.

Jadi siapa sebenarnya yang meracuni pikiran kita? Melalui aturan-aturan yang ditetapkan pemimpin-pemimpin negara ini di eksekutif, legislatif dan yudikatif. Mereka tidak peka pada kebutuhan rakyat malah sibuk memperhatikan kepentingan kelompoknya.

Sampai hari ini, tanah kita terjajah, lewat korporasi-korporasi kapital yang bersembunyi di balik wajah cantik investasi, sehingga berdiri bangunan-bangunan megah yang membuat tanah ini bolong di sana-sini sampai bisa mengubur hati nurani penguasa negeri hingga sanggup membunuh rakyatnya sendiri.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait