Kesadaran “Merawat Kehidupan” Petani Tembakau Selo Boyolalo

Festival Tungguk Tembakau di Selo Boyolali Boleh Merokok

Kala itu ada pesan di Whatsapp Grup Rumah Kretek Indonesia (RKI) dari Rizky Benang, Juru Bicara Komunitas Kretek. Dia membagikan info acara Festival Tungguk Tembakau yang akan diadakan di Desa Senden, Kecamatan Selo, Boyolali pada Selasa-Kamis, 12-14 Agustus 2025.

Tentu si Rizky bukan hanya sekedar membagikan info. Tapi ada pesan tersirat untuk mengajak anak-anak Rumah Kretek Indonesia pergi ke sana.

Awalnya saya mau menolak ajakan itu karena di Hari Rabu, ada Tour Buku “Perang Nikotin: Merenggut Denyut Ekonomi Kerakyatan” di Teko.Su, Jogja. Tapi setelah mencari info, ternyata acara intinya diadakan di hari Selasa malam dan Rabu pagi.

Jadi setelah beberapa pertimbangan, saya pun menerima ajakan Rizky Benang untuk pergi ke sana. Kebetulan juga saya kangen dengan suasana Selo, Boyolali semenjak ekspedisi Emas Hijau Jilid l Mei lalu.

Tembakau-tembakau di Selo Boyolali yang siap panen

Kami akhirnya pergi berdua. Membawa beberapa barang dan pakaian secukupnya, kami pun berangkat ke Selo, Boyolali pada Rabu, 13 Agustus 2025 sore,  menggunakan motor Vario yang biasa saya pakai.

Jogja-Selo tidak begitu jauh. Kurang dari 2 jam waktu yang kami tempuh. Sayang sore itu cuaca sedang tidak bersahabat, view Merapi & Merbabu tertutup kabut tebal.

Begitu masuk wilayah Selo, Boyolali, tembakau yang Mei lalu kami lihat baru berumur beberapa minggu saja, kini sudah siap dipanen. Bahkan sebagian sudah mulai panen petikan pertama. Sepanjang jalan pun terlihat di halaman rumah ada tembakau yang dijemur.

Ritual “merawat kehidupan”

Sesampainya di desa Senden, kami langsung meluncur ke Makam Gunungsari yang lokasinya tidak begitu jauh dari Tugu Tungguk Tembakau Senden. Di situ kami berbincang dengan warga sembari menunggu acara dimulai. Saya melihat ada sesajen di makam yang isinya menarik. Ada rokok Gudang Garam Merah. Dalam hati saya berpikir, pantas saja kalau rokok itu kerap distigma sebagai rokok dukun, hehehe.

Meskipun gerimis tiba-tiba datang-berhenti, datang-berhenti, tapi acara berlangsung secara hangat. Ada prosesi doa dan harapan juga dalam acara ini. Yang pada intinya mereka berharap agar tembakau tahun ini bisa terjual secara baik.

Festival Tungguk Tembakau di Selo Boyolali Boleh Merokok
Festival Tungguk Tembakau di Selo Boyolali Boleh Merokok

Karena memang tembakau di sini dijadikan sebagai Emas Hijau. Tanaman yang mampu mengangkat taraf ekonomi. Masyarakat bisa membangun rumah, mobil, membiayai pendidikan anak hingga berhaji  karena bertani tembakau.

Pukul 22:00 WIB acara ritual selesai. Kami pun beranjak ke basecamp Pak Parman untuk menumpang bermalam. Sesampainya di sana, cuaca dingin begitu menusuk tulang. Persis rasanya ketika kami Mei lalu menumpang menginap di sana.

Terus terang, saya tidak terlalu kuat dengan cuaca dingin. Ketika saya mencoba tidur, sela 15-30 menit saya terbangun karena kedinginan. Hal itu berangsur sampai keesokan harinya.

Pagi hari kabut tebal masih menyelimuti wilayah di lereng Merapi dan Merbabu.  Hingga pukul 09:00 kami pun segera turun ke Desa Senden kembali. Sesampainya kami di situ ternyata sudah banyak orang yang datang. Beberapa pejabat Boyolali juga hadir.

Acara pertama adalah ritual pemetikan yang dilakukan di makam lalu kemudian dilanjut ke Tugu Tembakau untuk rangkaian acara tarian, sambutan, hingga penampilan kesenian lokal.

Saya dan Rizky dibuat merinding ketika sesi sambutan oleh Bu Kades. Di tengah sambutan ia mengatakan dengan tegas jangan sampai tembakau ini hilang. Sebab, tembakau adalah sumber kehidupan bagi masyarakat Senden dan orang-orang yang ada di lereng Gunung Merapi dan Merbabu.

Melalui acara ini, menunjukan bahwa tembakau bagi masyarakat di lereng Gunung Merapi dan Merbabu memiliki nilai lebih. Ia tidak hanya menjadi tanaman yang syarat akan nilai ekonomi melainkan juga ritus dan tradisi. Bahkan saya pikir tidak banyak tanaman yang dirayakan semeriah dan semegah tanaman  tembakau.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Khoirul Atfifudin

BACA JUGA: Tantangan Petani Tembakau di Tengah Krisis Iklim: Musim Kemarau tapi Hujan Jadi Kesulitan di Masa Tanam 

 

Artikel Lain