Rokok masih menjadi barang legal. Ia bukan sebatas produk konsumsi. Tapi rokok sudah melekat pada budaya dan tradisi masyarakat. Bahkan juga menjadi kebiasaan masyarakat yang sudah cukup umur untuk merokok.
Daftar Isi
ToggleSayangnya, peran rokok ini dalam menstabilkan negara dari berbagai lini dan sisi tidak pernah dianggap. Bahkan terus diserang dan dicaci maki dengan barbagai stigma yang menurut saya goblok.
Di banyak daerah, rokok menjadi media untuk mempererat silaturahim. Selain itu, ia juga sebagai kebiasaan dalam acara. Misal, dalam acara tahlilan, atau rapat RT, pasti selalu ada rokok sebagai suguhannya. Kalaupun tidak ada, pasti akan membawa sendiri-sendiri. Acara lainya seperti hajatan pernikahan, kerja bakti di lingkungan desa terutama dan juga kalau nongkrong. Pasti tidak bisa lepas dari aktivitas yang namanya merokok.
Rokok juga sudah menjadi teman baik hampir dalam segala hal. Ketika sedang galau, atau pusing mikirkan sesuatu, rokok selalu menemani. Dalam bekerja pun juga menemani. Seperti seorang kuli bangunan yang memegang cangkul dan rokok dibibir mampu membangun sebuah istana. Sama juga dengan petani yang selalu membawa rokok atau tingwe ke sawah, ia mampu menjaga ketahanan pangan.
Sudah semelekat itu rokok dengan masyarakat. Tetapi stigma buruk juga masih saja melekat kuat. Bahkan dianggap barang hina yang menyebabkan petaka bagi masyarakat sekitar. Tentu hal ini bukan tanpa sebab kenapa rokok di stigma negative terus terusan sampai melekat ke tulang rusuk.
Sebabnya adalah perang nikotin. Ya, antara perusahaan rokok melawan perusahaan farmasi. Perusahaan farmasi menggunakan berbagai lembaga terutama lembaga kesehatan untuk mengkampanyekan bahwa rokok itu buruk dan menyebabkan berbagai persoalan.
Saking masifnya kampanye itu, masyarakat akhirnya tertanam kebencian terhadap rokok. Kebencian itu menyebabkan masyarakat mudah sekali mengiyakan peristiwa atau kajadian yang disebabkan oleh rokok. Mulai dari isu kesehatan, ekonomi bahkkan kecelakaan.
Stigma Rokok Yang Tidak Masuk Akal
Entah dari mana stigma itu muncul. Tapi terasa goblok. Bayangkan rokok di kategori kan sebagai narkoba karena mengandung zat adiktif yang disebut nikotin dan tar. Padahal nikotin juga ada dalam makanan dan buah-buahan seperti terong-terongan.
Ada lagi kampanye goblok yang mengatakan bahwa merokok adalah gerbang awal masuk narkotika. Padahal jelas jelas 2 hal berbeda. Selain itu juga membuat kecanduan. Padahal, rokok sama sekali tidak menyebabkan kecanduan. Merokok hanya sebuah kebiasaan. Buktinya saat puasa para perokok juga tahan untuk tidak merokok selama seharian. Dan tidak ada efek apa-apa.
Rokok Sebagai Penyebab Biang Kemiskinan
Seringkali kita mendengar bahwa merokok adalah budaya orang miskin dan juga penyebab kemiskinan. Padahal banyak teori para ahli yang mengatakan rokok tidak menyebabkan miskin. Padahal penyebabnya system atau pemerintah saja yang tidak becus. Seperti minimnya lapangan kerja, akses pendidikan yang tidak merata, akses layanan sosial yang tidak adil dan sebagainya.
Tapi kenapa rokok yang disalahkan? Ya memang paling mudah memang menyalahkan hal hal yang sudah kita benci.
Bahkan juga rokok disalahkan atas terjadinya stunting pada anak. Dunia kesehatan ataupun masyarakat menyalahkan orang tuanya yang memilih membeli rokok daripada membeli telur atau susu untuk anak. Jelas itu keliru.
Stigma rokok sebagai penyebab hal buruk
Kerapkali juga rokok sering mendapat tuduhan tudahan ketika hal buruk terjadi. Lebih tepatnya menjadi kambing hitam. Seperti halnya kebakaran. Misal kebakaran TPA. Langsung menyalahkan punting rokok. Dan masyarakat pun menerima alasan itu. Padahal ada faktor yang lebih utama, seperti TPA sudah menggunung, lalu tidak dipikirkan bagaimana mengolahnya.
Kebakaran hutan pun sama alasanya kebanyakan puntung rokok dibuang sembarangan. Jika kita mau berpikir panjang, tidak mungkin bara rokok yang kecil menjadi penyebab utama. Bisa jadi karena penebangan hutan secara liar, kemudian menyebabkan daun atau ranting mengering.
Kebakaran SPBU pun juga kadang begitu, bagaimana mungkin SPBU yang memiki keamanan sangat ketat bisa terbakar karena rokok.
Berpikir dengan adil
Propaganda soal stigma rokok secara besar-besaran pasti juga menggunakan anggaran yang besar. Malah juga menggunakan uang dari cukai rokok. Daripada membuang uang untuk hal seperti itu, mending untuk membuat fasilitas kesehatan atau bagi-bagi makanan kepada masyarakat atau membuat bisnis untuk menyediakan lapangan pekerjaan. Toh juga perokok sudah cukup muak melihat kampanye kesehatan lewat bungkus rokok. Tidak perlu berlebihan.
Memang berbagai kejadian naas itu bisa saja karena rokok. Misal kebakaran bisa jadi karena punting rokok. Tapi bukan penyebab satu-satunya kan? Kalau mau curiga, kita bisa saja curiga seperti ini : Saya curiga kenapa rokok dikambing hitamkan. Jangan-jangan itu hanya alasan untuk menghindari kasus hukum karena adanya unsur kelalaian.
Saya berharap kepada masyarakat untuk tidak termakan dengan stigma bodoh itu. Dan tidak mudah mengkambing hitamkan rokok sebagai biang kerok penyebab berbagai hal buruk. Banyak stigma rokok yang sudah tidak masuk akal. Jangan jadi manusia goblok dengan mempercayai stigma yang nggak masuk akal itu.
Mari berpikir dengan lebih adil. Gunakan otak kita sebaik-baiknya. Jangan hanya menerima dengan mentah tanpa berpikir kritis.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Perempuan Merokok Dan Stigma Yang Tidak Adil









