Kretek Adalah Produk Lokal yang Mesti Dilestarikan, Bukan Dimusuhi

kretek produk lokal indonesia

Kretek adalah produk lokal. Tidak ada di mana pun kecuali di Indonesia. Kretek dibuat di dalam negeri dengan bahan dari dalam negeri, dan di pasarkan dalam negeri. Tembakau di tanam oleh petani di ladangnya sendiri. Cengkeh di petik dari kebun rakyat, lalu di olah dan dilinting menjadi rokok kretek oleh tangan-tagan atau buruh dalam negeri. Tidak ada proses yang jauh dari kehidupan masyarakat. Semua hampir melekat dalam kehidupan sehari-hari. Dan menjadi simbol kemandirian nasional, karena tidak ada yang bergantung dari asing.

Kretek adalah produk lokal yang bukan barang mewah

Dibanyak daerah kretek bukan hal yang mewah. Ia dijual di toko, minimarket dan warung kecil di pelosok-pelosok desa. Bisa dibeli satuan juga untuk dinikmati bersama kopi. Kadang juga sebagai simbol perekat sosial. Perputaran ekonominya sederhana, tapi bisa menghidupi jutaan orang. Selain menjadi simbol kemandirian nasional, juga menjadi sokoguru ekonomi nasional. Alasannya jelas: selain menyediakan banyak lapangan pekerjaan, kretek juga menyumbang ratusan triliun ke kas negara lewat cukai dan pajak. Bahkan lebih banyak dari jumlah deviden BUMN seluruhnya. 

Kretek seharusnya menjadi kebanggaaan orang Indonesia. Tapi karena kampanye negatif dari asing, perlahan kretek mulai dibenci dan bahkan berusaha di bunuh oleh orang dalam negeri. Mungkin orang tersebut tidak paham, hanya kemakan propaganda asing. Sialnya, propaganda itu legitimasi oleh banyak kalangan. Semua penelitian yang menulis tentang narasi buruk tembakau atau kretek, pasti akan dibenarkan oleh lembaga-lembaga kesehatan. 

Dalam buku perang nikotin, Tembakau atau kretek diserang bukan persoalan isu kesahatan. Melainkan soal kepentingan pasar yang lebih besar. Ini adalah perang dagang perusahaan nikotin melawan perusahaan farmasi global. Kretek dipaksa masuk perang tersebut.

Produk lokal yang harus dilestarikan

Membicarakan kretek seharusnya sudah bukan bicara rokok atau perokok lagi. Karena ini adalah budaya bangsa yang menjadi simbol kemandirian nasional dan sokoguru ekonomi nasional. Seringkali di Indonesia membicarakan kretek atau seputar industri hasil tembakau selalu dicap perokok atau membela pabrik rokok. Padahal jelas, ini bukan persoalan pabrik rokok atau perokok. Ini soal hajat hidup jutaan orang yang bergantung pada sektor tersebut. 

Membela kretek berarti membela kepentingan jutaan orang. Persoalan rokok tidak sehat atau mengganggu, itu hanya propaganda yang tidak jelas. Sudah jelas narasi-narasi asing tersebut seringkali bertolak belakang dengan realita di lapangan. Agar terlihat meyakinkan, setiap ada kematian pasti menggiring opini bahwa faktor utamanya adalah rokok. Rokok dijadikan kambing hitam untuk menutupi dosa-dosa dunia kesehatan. 

Jika ini dibiarkan terus menerus, atau tidak ada kepedulian soal budaya kretek. Dikhawatirkan kretek akan tinggal cerita. Banyak generasi muda yang tidak paham soal kretek, hanya menganggap kretek sebatas rokok tanpa filter. Padahal jauh lebih dari itu. Mirisnya, kebudayaan itu perlahan mati. Ketakutan terbesar adalah ketika kretek hanya bisa ditemukan di museum. 

 

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Kretek: Komoditas Lokal yang Digiring Bernasib Sama dengan Kematian Komoditas Kekayaan Nusantara Lain

 

 

 

Artikel Lain