Paman Chen, Kedaulatan Paru-Paru dan Runtuhya Dogma Kesehatan Tentang Rokok

Paman Chen pelari marathon asal china yang merokok sambil lari marathon

Selama bertahun-tahun kita dicekoki dan dikurung dengan narasi tunggal, yang dibuat dan dikampanyekan oleh lembaga kesahatan dunia atau WHO. Lebih dari itu, kementerian kesehatan dan berbagai lembaga antirokok pun ikut-ikutan membangun kampanye,  bahwa tembakau dan rokok adalah musuh utama kesehatan. 

Kita sering dicekoki dengan kampanye bahwa orang yang merokok berarti lemas, tidak bugar, ringkih, sesak napas dan bahkan berada di ambang kematian. Propaganda seperti itu seringkali diucapkan untuk menakut-nakuti orang yang merokok dan tentu juga agar orang tidak merokok.

Paman Chen, pelari marathon asal China yang merokok sambil lari marathon

Namun, semua itu dipatahkan oleh pria tua di jalanan China. Pria itu bernama Chen. Seorang pria dengan usia 50 tahun datang dengan membawa kebenaran yang membakar habis semua teori kesehatan dari lembaga kesehatan dunia yang juga diadopsi hampir seluruh negara di dunia.

Sambil merokok berantai, Chen menyelesaikan lari maraton sejauh 42 kilometer dalam waktu 3 jam 28 menit. Catatan waktu ini bukan hanya angka saja. Ini adalah tamparan keras bagi siapa pun yang merasa paling tahu soal standar fisik manusia. Paman Chen finis di posisi 500 besar, meninggalkan ribuan pelari lain yang hidupnya steril dan patuh pada aturan kesehatan di belakangnya.

Kejadian Paman Chen membongkar satu hal penting: kesehatan fisik tidak bisa didikte oleh regulasi yang kaku. Selama ini, otoritas kesehatan kita sering kali bertindak seperti polisi moral yang memaksakan standar kebugaran tunggal. Mereka menggeneralisasi manusia seolah-olah semuanya adalah mesin yang akan rusak jika terpapar asap rokok.

Paman Chen meruntuhkan dogma bahwa merokok mengakibatkan nafas semakin pendek

Jika teori kesehatan yang sering digembar-gemborkan oleh WHO dan kementerian kesehatan itu mutlak, seharusnya Paman Chen sudah tumbang di kilometer kelima. Namun, fakta bahwa ia mampu mempertahankan performa atletik di atas rata-rata membuktikan bahwa ketahanan fisik adalah perpaduan antara mentalitas, adaptasi tubuh, dan kedaulatan individu adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh dunia medis barat dan para birokrat.

Di Indonesia, narasi anti rokok seringkali ditunggangi oleh kepentingan yang ingin menghapus kedaultan idustri hasil tembakau atau kretek kita. Kretek adalah identitas budaya, bukan soal rokok saja, dan barangkali menjadi tenaga bagi para pekerja di Indonesia. 

Seperti halnya para petani di sawah yang selalu membawa rokok ataupun para kuli bangunan yang selalu membawa atau diberi rokok. Bahkan banyak guyonan dari kalangan kuli bangunan yang mengatakan, “beri aku sebatang Surya, maka akan aku bangunkan istana.”

Lebih dari itu, banyak juga seorang buruh di Pelabuhan atau terminal dan pekerja kasar lainnya yang bekerja sambil menghisap rokok di sela-sela waktu luangnya. Hanya untuk menambah energi dan merefresh tenaganya. Mereka juga orang-orang yang tenaga dan fisiknya jauh lebih kuat daripada pembuat kebijakan itu sendiri.

Merokok tidak berarti otomatis menjadi pecundang secara fisik

Melestarikan kretek adalah upaya menjaga kedaulatan gaya hidup dari campur tangan negara yang terlalu dalam. Paman Chen adalah bukti hidup bahwa menjadi perokok tidak otomatis menjadi pecundang secara fisik. Justru, ada daya tahan dan ketenangan yang sering kali gagal dipahami oleh mereka yang hanya melihat tembakau dari sisi medis yang sempit.

Kita perlu menantang balik kebijakan kesehatan yang sering kali terasa “goblok”. Hanya karena menyasar satu aspek tanpa melihat realitas di lapangan. Jika seorang pria 50 tahun bisa menaklukkan maraton sambil merokok. Lantas atas dasar apa otoritas kesehatan terus memperlakukan perokok sebagai kelompok masyarakat kelas dua yang tidak produktif?

Kesehatan adalah hak individu untuk menentukan batasannya sendiri, bukan instrumen negara untuk menindas satu kelompok hobi. Fenomena Paman Chen harusnya menjadi titik balik bagi kita untuk berhenti menelan mentah-mentah doktrin kesehatan yang seragam.

Pada akhirnya, garis finis tidak pernah bertanya apa yang ada di paru-parumu. Ia hanya mencatat siapa yang paling berani dan tangguh untuk sampai ke sana. Dan Paman Chen telah membuktikan bahwa asap rokok bukanlah penghalang untuk menjadi juara, melainkan bagian dari ritme ketangguhan yang tidak bisa diintervensi oleh pasal-pasal kesehatan mana pun.

 

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Sebat Bareng Jadi Alasan Sederhana Untuk Berkumpul dan Melepas Lelah Setelah Seharian Bekerja

 

 

Artikel Lain

No Content Available

Artikel Lain