Kedaulatan Industri Hasil Tembakau di Negeri Ini Bukan Hal yang Mustahil

komoditas tembakau

Indonesia adalah negeri yang sejak lama disebut zamrud khatulistiwa. Dari Indonesia, hamparan tanahnya dikenal subur, airnya melimpah, dan alamnya menyimpan kekayaan yang tidak sedikit. Bahkan muncul ungkapan menarik dari nenek moyang kita: menancapkan tongkat kayu pun bisa tumbuh menjadi pohon. Ungkapan itu mungkin terdengar berlebihan, tetapi ia lahir dari pengalaman panjang hidup di tanah yang ramah bagi pertanian. Dari ujung barat di Aceh hingga timur di Papua, lanskap hijau dan kesuburan bukanlah cerita kosong.

Komoditas tembakau di Indonesia

Keunggulan geografis Indonesia tidak berhenti pada daratan. Bentuknya sebagai negara kepulauan menghadirkan laut yang luas dan kaya. Garis pantai yang panjang membuka ruang hidup bagi jutaan nelayan, sebagaimana pegunungan dan dataran tinggi menopang kehidupan para petani. Karena itu, struktur sosial-ekonomi masyarakat Indonesia sejak lama bertumpu pada dua sektor utama: agraris dan maritim. Di desa-desa dan lereng gunung, orang menanam padi, palawija, kopi, hingga tembakau. Di pesisir, jaring ditebar dan perahu berlayar sejak fajar. Semua memiliki masa jayanya masing-masing.

Dalam konteks pertanian, tembakau pernah menjadi salah satu komoditas yang memberi harapan besar. Banyak daerah menggantungkan perputaran ekonominya pada musim tanam dan panen tembakau. Dari petani, buruh tani, pengepul, hingga industri pengolahan, rantai ekonominya panjang dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Pada masa tertentu, tembakau bukan sekadar tanaman, melainkan simbol kesejahteraan desa. Rumah diperbaiki, anak disekolahkan, dan roda ekonomi berputar lebih kencang saat harga tembakau sedang baik.

Komoditas yang “di ujung tanduk”

Namun dinamika global dan nasional turut memengaruhi perjalanan komoditas ini. Perdebatan panjang mengenai kesehatan, regulasi, cukai, hingga kampanye antirokok membentuk lanskap baru bagi industri hasil tembakau. Di satu sisi, ada dorongan kuat untuk pengendalian konsumsi. Di sisi lain, ada jutaan orang yang hidupnya bergantung pada sektor ini. Ketegangan kepentingan antara industri farmasi, industri nikotin, negara sebagai pemungut cukai, serta masyarakat sebagai konsumen dan produsen, kerap dibaca sebagai “perang” kepentingan ekonomi dan narasi.

Di tengah situasi itu, optimisme terhadap kedaulatan komoditas tembakau bukanlah sesuatu yang mustahil. Meski terus terusan di serang oleh zionist antirokok lewat kampanye dan narasinya. Bahkan lembaga negara yang seharusnya bisa mengayomi semuanya pun ikut-ikutan menyerang komoditas dalam negeri.

Negara yang kaya sumber daya seharusnya mampu merumuskan regulasi yang adil untuk mewujudkan kedaulatan. Paling tidak, dengan menjaga keberlangsungan ekonomi rakyatnya. Kedaulatan disini berarti berpihak pada actor utama, yaitu petani. Artinya memastikan harga stabil, distribusi yang tidak timpang, dan melindungi hak-haknya.

Negara yang kaya akan komoditasnya harus punya visi jangka panjang. Bukan takut terhadap ancaman asing yag datang sesaat.

Industri hasil tembakau harus berdaulat

Indonesia telah berkali-kali membuktikan kemampuannya bertahan dalam berbagai tekanan global. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan pengalaman panjang di sektor agraris, masa depan industri hasil tembakau tetap memiliki ruang.

Selama petani cengkeh masih menanam cengkeh dan petani tembakau masih menanam tembakau, maka kedaulatan di bidang IHT bukan hal yang mustahil. Persoalan serangan terhadap antirokok bukan soal yang sulit, asalkan pemerintah kita punya sikap yang jelas terhadap industri ini.

Disamping itu dan pada saat yang sama, harus juga diimbangi dengan regulasi yang bijak, melindungi hak-haknya pelaku IHT dari hulu-hilir, dan tentunya wajib berpihak pada keadilan ekonomi. Optimisme ini bukan harapan kosong atau halusinasi, melainkan kemungkinan yang rasional dalam perjalanan bangsa ini. 

Jadi sekali lagi bahwa kedaulatan di bidang IHT bukan hal yang mustahil di negeri kita.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Dari Dulu Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Identitas Jati Diri Bangsa Indonesia

 

Artikel Lain