Tembakau Temanggung Dengan Kualitas Tembakau Terbaiknya yang Tak Akan Pernah Tergantikan

petani tembakau temanggung memanen tembakau

Temanggung sampai hari ini masih menjadi sentra tembakau terbaik di Indonesia. Bagi masyarakat di sini, tembakau bukan sekadar tanaman, tapi sudah jadi identitas. Itulah kenapa Temanggung dijuluki sebagai “Negeri Tembakau”, karena mayoritas warganya memang menggantungkan hidup dari komoditas ini.

Pertengahan bulan April kemarin, saya bersama dua orang teman berkunjung ke beberapa desa di Temanggung untuk melihat langsung bagaimana kondisi penanaman di sana. Sayangnya, di lapangan setidaknya setiap tahun selalu menunjukkan luas lahan tembakau  yang terus mengalami penurunan. Lebih dari itu, harga tembakau pun juga fluktuatif sehingga petani tidak tau tembakaunya akan laku atau tidak. Beberapa tahun terakhir pun petani mengalami kerugian.

Kampanye antirokok yang makin masif

Hal ini terjadi semenjak kampanye antirokok semakin masif melakukan serangan lewat narasi-narasi buruk. Mereka mendesak pemerintah menaikkan cukai setinggi-tingginya agar harga rokok tak terjangkau, bahkan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jelas-jelas sangat merugikan nasib petani. 

Sering kali pihak antirokok sekaligus anti tembakau ini menyuruh petani melakukan diversifikasi atau pindah ke tanaman lain. Masalahnya, mereka tidak sadar bahwa mereka tidak memahami realitas masyarakat yang sebenarnya. Logikanya sederhana: kalau memang ada komoditas lain yang lebih menjanjikan selain tembakau, petani tidak perlu disuruh pun pasti akan pindah sendiri. Kalau kata petani di sana, cuma ada satu yang lebih menjanjikan dibanding tembakau: ganja. Tapi, ya, masak petani Temanggung suruh tanam ganja?

Tembakau Temanggung penyelamat ekonomi rakyat

Ada alasan kuat mengapa tanaman lain sulit menggantikan posisi ekonomi tembakau di Temanggung. Pertama, soal nilai ekonominya yang memang tidak tertandingi. Belum ada komoditas lain yang nilainya bisa sepadan. Sebagai perbandingan, harga kopi itu jarang bisa lewat dari Rp70.000/kg itu pun butuh waktu setidaknya 5 tahun untuk panen pertama. Apalagi jagung yang seringnya cuma di kisaran Rp5.000/kg. Sementara tembakau Temanggung bisa meroket sampai Rp100.000/kg, bahkan kalau kualitasnya bagus atau tembakau srinthil, harganya bisa tembus Rp120.000 hingga Rp150.000 per kilogramnya.

Selain itu, tembakau ini bisa dibilang “tanaman ajaib” yang tahan cuaca ekstrem. Saat kemarau panjang yang bikin tanaman seperti kopi, sayuran, dan palawija layu atau gagal panen, mutu tembakau malah makin bagus. Kopi misalnya, sering kali bunganya rontok kalau musim buahnya barengan sama kemarau panjang, tapi tembakau justru semakin bagus. Masyarakat Temanggung pun mempercayai bahwa tembakau adalah tanaman wali.

Belum lagi bicara kendala geografis dan masa tanam. Di lahan yang tingginya di atas 1.000 mdpl dengan kontur miring dan terjal, pilihan tanaman jadi sangat terbatas. Biasanya daerah pegunungan dengan tanah miring akan lebih lama masa panennya. Masa tunggu yang lama ini jelas memberatkan dapur petani.

Dari sisi perawatan pun, risiko hamanya jauh lebih rendah. Secara faktual, tembakau ini punya senjata alami berupa senyawa nikotin yang bikin hama malas mendekat. Kalau menanam kubis, petani harus kerja keras menyemprot pestisida sampai 35 kali selama masa tanam. Tapi kalau tembakau, cukup 3-4 kali semprot saja sudah aman.

Tembakau Temanggung adalah tembakau dengan kualitas terbaik

Terakhir, yang paling penting adalah kepastian pasarnya. Tembakau Temanggung sudah diakui kualitasnya sebagai yang terbaik, jadi barangnya selalu terserap dan pasarnya jelas. Beda ceritanya kalau nanam sayur seperti wortel atau kubis yang harganya sering hancur pas lagi panen raya karena barang terlalu melimpah di pasar.

Bagi petani, tanaman-tanaman lain seperti kopi atau sayuran itu akhirnya cuma dianggap sebagai upaya “tambal-tambal” buat kebutuhan harian yang kecil saja. Itu bukan sumber penghasilan utama yang bisa diandalkan buat kebutuhan hidup yang besar. Selama realitas di lapangannya masih seperti ini, tembakau akan tetap menjadi satu-satunya tumpuan hidup yang paling masuk akal bagi masyarakat Temanggung.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Lewat Tumpang Sari, Petani Temanggung Optimalkan Setiap Jengkal Lahan

Artikel Lain