Mengenal Michael Bloomberg: Pendonor Antirokok Dunia dan Musuh Utama Petani Tembakau

michael bloomberg

Publik mungkin lebih sering mengasosiasikan nama Michael Bloomberg dengan kesuksesan bisnis media dan panggung politik internasional. Namun, di balik citranya sebagai sosok dermawan global, taipan Yahudi terkaya di dunia alumnus Johns Hopkins dan Harvard ini menyimpan rekam jejak yang sarat dengan ambisi penumpukan kekuasaan.

Sejak awal perjalanan kariernya, ia selalu mengambil setiap langkah strategis berdasarkan dorongan untuk memperluas kekuasaan melalui pengaruh global, mengontrol narasi, serta mengondisikan opini publik demi mengamankan keuntungannya sendiri.

Gurita Media dan Ambisi Politik Tanpa Batas Michael Bloomberg

Ketika dipecat dari Wall Street pada tahun 1981 karena konflik internal, Michael Rubens Bloomberg tidak tinggal diam atau meratapi nasibnya. Ia langsung mendirikan perusahaan media raksasa bernama Bloomberg LP. Lewat gurita medianya yang memiliki ratusan cabang di seluruh dunia, ia memegang senjata rahasia untuk menyetir opini publik secara masif sesuai dengan narasi yang ia inginkan.

Senjata media itu pula yang memuluskan jalannya masuk ke dunia politik praktis. Hingga akhirnya, ia berhasil menduduki kursi Wali Kota New York pada tahun 2002. Haus akan kekuasaan yang begitu mendalam membuat Michael Bloomberg bahkan nekat mengutak-atik aturan masa jabatan demi bisa berkuasa hingga tiga periode berturut-turut, sambil terus melempar berbagai kebijakan kontroversial untuk mengamankan posisi politiknya.

Skandal Islamofobia Sistematis di New York

Di balik retorika kebebasan dan hak asasi yang kerap ia dengungkan, Bloomberg memberikan dukungan penuh terhadap agresi militer Israel di Palestina. Sementara itu, di kota yang ia pimpin sendiri, ia justru menerapkan praktik Islamofobia secara sistematis dan terstruktur.

Pada tahun 2001, Bloomberg melegalkan operasi intelijen untuk memata-matai 250 masjid dan bisnis milik warga Muslim tanpa adanya bukti kejahatan sama sekali. Privasi serta hak-hak dasar warga Muslim diinjak-injak hanya karena identitas agama mereka. Tindakan diskriminatif ini menunjukkan betapa otoriternya gaya kepemimpinan Bloomberg dalam mengorbankan kelompok minoritas demi mengamankan kepentingannya.

Perang Antirokok: Pemerasan Berkedok Pajak

Tidak berhenti sampai di situ, pada tahun 2002 Bloomberg mulai melancarkan perang terbuka yang sangat agresif terhadap industri tembakau. Ia mengawali langkahnya dengan menaikkan pajak rokok di Kota New York hingga harganya melonjak dua kali lipat membandingkan wilayah lain di Amerika Serikat.

Bloomberg membungkus rapi langkah kontroversial ini dengan jargon kepedulian terhadap kesehatan publik. Padahal, lonjakan pajak ini tidak lain merupakan bentuk pemerasan terselubung yang secara perlahan mulai mencekik masyarakat kelas bawah. Kebijakan ini menjadi cetak biru awal dari agresi globalnya untuk menghancurkan ekosistem tembakau dan menekan kehidupan para petani tembakau.

Proyek Pesanan Kartel Farmasi Internasional

Gerakan antirokok yang gencar digelorakan Bloomberg sejatinya tidak murni berfokus pada isu kesehatan masyarakat. Jargon kesehatan yang ia dengungkan ternyata merupakan proyek pesanan dari industri farmasi raksasa untuk memaksa para perokok beralih ke produk nicotine replacement therapy atau terapi pengganti nikotin komersial.

Sejak dekade 1990-an, kampanye antirokok ini diduga kuat menunggangi lembaga dunia seperti WHO untuk memproduksi riset pesanan dan memanipulasi statistik kematian. Bisnis hitam ini sukses meraup laba raksasa yang nilainya bahkan melampaui produk domestik bruto (PDB) negara besar seperti India.

Untuk mengunci monopoli bisnis ini, mereka menggandeng Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat sebagai hakim sekaligus juri komersial. Birokrasi FDA sendiri memiliki sejarah panjang korupsi demi meloloskan kepentingan bisnis para pengusaha tertentu.

Ia juga turut mendanai banyak lembaga didunia untuk mengkampanyekan agendanya tersebut. Termasuk puluhan lembaga di Indonesia.

Kebohongan Sains Manipulatif dan Monopoli Global

Di sinilah peran Bloomberg sebagai panglima perang antirokok semakin benderang. Ia mendirikan lembaga riset khusus untuk mendikte kebijakan pembatasan tembakau global di bawah WHO. Melalui Institute for Global Tobacco Control, Bloomberg menyusupkan sains bias demi mendikte kebijakan pembatasan tembakau dunia.

Kedekatan transaksional ini semakin jelas karena ia menempatkan mantan direktur raksasa farmasi Novartis sebagai penasihat utamanya. Hasil dari kolaborasi ini sangat fantastis: penjualan produk farmasi meroket tajam hingga mencapai tiga miliar dolar.

Pada akhirnya, pihak tertentu sengaja memanipulasi sains kesehatan demi memenuhi pesanan bisnis korporasi. Mereka merancang data kematian sedemikian rupa untuk menimpakan semua kesalahan secara mutlak pada produk rokok, tanpa memperhitungkan komorbiditas atau penyakit bawaan lainnya.

Siasat Dagang Terselubung Michael Bloomberg

Pada akhirnya, Bloomberg memotori gerakan antirokok global bukan murni untuk melindungi kesehatan publik. Melainkan sebagai siasat dagang terselubung untuk mematikan industri tembakau demi menyuburkan gurita kartel farmasi internasional. Michael Bloomberg bukanlah figur penyelamat kesehatan dunia. Melainkan sosok politisi dan taipan media yang menggunakan pengaruh regulasi serta memanipulasi sains untuk mematikan rezeki petani tembakau demi meraup keuntungan finansial bagi korporasi sekutunya.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Perkawinan Bloomberg dan Farmasi

 

Artikel Lain