In this economy—di tengah situasi ekonomi yang serba sulit—membeli kebutuhan sehari-hari saja rasanya semakin berat. Harga berbagai barang terus naik, sementara daya beli masyarakat justru semakin tertekan. Bagi kelompok menengah ke bawah, mengatur pengeluaran menjadi keharusan. Termasuk dalam urusan rokok.
Daftar Isi
ToggleSebagai perokok, saya tentu merasakan hal tersebut. Rokok yang dahulu bisa dibeli tanpa banyak pertimbangan, sekarang mulai harus dipikirkan ulang. Bukan karena sudah tidak ingin menikmati rokok favorit, melainkan karena ada kebutuhan lain yang jauh lebih penting untuk dipenuhi.
Bagi saya, beberapa rokok seperti Garpit, Dunhill Hitam, dan LA Mango Boost sudah masuk kategori rokok yang sesekali saja bisa dinikmati. Harganya yang kini berada di kisaran Rp30 ribuan membuat saya harus berpikir dua kali sebelum membelinya. Jadilah rokok-rokok tersebut sebagai semacam self reward ketika gajian tiba.
Lantas, apa alternatifnya?
Mencari Rokok yang Ramah di Kantong
Sebenarnya, ada banyak cara untuk tetap menikmati rokok tanpa harus mengeluarkan uang terlalu banyak. Salah satunya dengan beralih ke tembakau lintingan.
Saya sendiri sudah mencoba beberapa tembakau lokal, seperti Lamsi dan Kemloko dari Temanggung. Rasanya cukup nikmat dan bisa menjadi alternatif untuk mengisi waktu senggang.
Namun, melinting rokok bukan selalu menjadi pilihan yang praktis. Ada kalanya saya sedang asyik menulis, lalu tiba-tiba membutuhkan rokok untuk menyegarkan pikiran ketika ide mulai buntu. Dalam situasi seperti itu, tentu saya ingin langsung mengisap rokok tanpa harus repot menyiapkan lintingan terlebih dahulu.
Belum lagi ketika sedang fokus mengerjakan sesuatu. Rasanya kurang nyaman jika harus menghentikan pekerjaan hanya untuk melinting rokok.
Karena itulah, saya tetap membutuhkan rokok siap hisap yang harganya bersahabat. Bukan sekadar murah, tetapi juga harus punya rasa yang bisa dinikmati.
Setelah sebelumnya cukup lama menikmati Djarum Coklat sebagai pengganti rokok favorit, saya akhirnya kembali mencari alternatif lain. Bukan tanpa alasan. Selain mulai bosan, saya juga ingin menemukan rokok yang lebih ramah di kantong.
Dari perjalanan itulah saya mengenal Artha Sena.
Artha Sena, Alternatif Rokok Harian
Berbicara soal rokok kretek, nama Djarum 76 tentu sulit dilewatkan. Rokok ini sudah begitu ikonik dan punya tempat tersendiri di kalangan kretekus.
Namun, bukan berarti hanya Djarum 76 yang layak diperhitungkan. Masih banyak rokok kretek lain yang bisa dinikmati, termasuk Artha Sena.
Bagi saya, menemukan Artha Sena menjadi salah satu jawaban atas kebutuhan mencari rokok harian dengan harga yang lebih terjangkau. Apalagi, saya memang sedang tidak ingin terlalu sering membeli rokok dengan harga puluhan ribu rupiah.
Satu hal yang perlu digarisbawahi, mencari rokok murah bukan berarti harus mengorbankan kenikmatan. Sebab, percuma saja mendapatkan harga ekonomis kalau pada akhirnya rasa yang ditawarkan tidak sesuai harapan.
Dalam hal ini, Artha Sena cukup menarik perhatian saya. Kehadirannya memberikan alternatif bagi perokok yang ingin tetap menikmati kretek tanpa harus mengeluarkan anggaran terlalu besar.
Tidak Harus Mahal untuk Bisa Dinikmati
Ada anggapan bahwa rokok dengan harga lebih tinggi otomatis menawarkan kenikmatan yang lebih baik. Padahal, soal rasa tentu kembali kepada selera masing-masing.
Saya sendiri tidak selalu menjadikan harga sebagai patokan utama ketika memilih rokok. Selama rasanya cocok, tarikannya nyaman, dan harganya tidak memberatkan kantong, rasanya tidak ada alasan untuk memaksakan diri membeli rokok yang lebih mahal.
Di sinilah Artha Sena menjadi menarik untuk dipertimbangkan. Bagi saya, keberadaan rokok seperti ini penting, terutama ketika kondisi ekonomi sedang tidak bersahabat.
Memang, setiap orang punya standar kenikmatan yang berbeda. Ada yang menyukai karakter kretek tertentu, ada pula yang lebih mementingkan aroma dan sensasi saat mengisapnya. Karena itu, Artha Sena tentu tidak harus menjadi pengganti mutlak bagi semua rokok favorit.
Namun, setidaknya ada pilihan lain yang bisa dipertimbangkan ketika anggaran sedang terbatas.
Andalan di Tengah Ekonomi yang Sulit
Pada akhirnya, situasi ekonomi memang membuat banyak hal harus disesuaikan. Pengeluaran yang sebelumnya terasa biasa saja, sekarang perlu diperhitungkan dengan lebih cermat.
Bagi saya, menikmati rokok juga termasuk salah satu hal yang harus disesuaikan. Bukan berarti harus selalu membeli rokok mahal demi mempertahankan kebiasaan lama.
Ada kalanya kita perlu mencari alternatif yang lebih masuk akal. Dan Artha Sena menjadi salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan dalam situasi seperti sekarang.
Sebab, ditengah situasi ekonomi seperti saat ini, bukan perkara gengsi atau merek yang paling terkenal. Yang lebih penting adalah menemukan pilihan yang sesuai dengan kemampuan kantong.
Kalau ada rokok yang lebih terjangkau dan masih bisa dinikmati, mengapa harus memaksakan diri membeli yang mahal?










