PERTANIAN

Ketua YLKI yang Tak Pernah Membela Konsumen Rokok Itu Bernama Tulus Abadi

Tulus Abadi amnesia misi dan tujuan mulia organisasinya. rokok

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, adalah salah satu sosok antirokok yang tak pernah absen menentang Industri Hasil Tembakau di Indonesia. Ia senantiasa lantang bersuara jika rokok tidak hanya membuat konsumennya penyakitan, tetapi juga dapat memiskinkan keluarga serta negaranya.

Bukan sesuatu yang mengagetkan, apabila setiap ada event antirokok, Tulus Abadi selalu menulis artikel atau mengeluarkan statement di media. Yang masih hangat misalnya, ketika Indonesia menjadi tuan rumah APACT 12th, Sang Pembela Konsumen itu menulis artikel berjudul Pesan Strategis APACT Meeting bagi Indonesia. Isinya sudah barang tentu bukan perkara Industri Hasil Tembakau di Indonesia telah berjasa besar terhadap bangsa dan negara, melainkan dukungan moral terhadap gerakan pengendalian tembakau di Indonesia.

Kita sama-sama tau, gerakan pengendalian tembakau berniat membunuh IHT di Indonesia. Hal ini tentu saja akan berdampak buruk pada berbagai hal, tumbangnya petani tembakau dan cengkeh, jutaan orang terampas lapangan pekerjaannya dan negara merugi triliunan. Tetapi Tulus Abadi masi lupa. Menyuarakan pengendalian tembakau baginya adalah kemuliaan.

Tak berhenti sampai situ, di tengah arus semangat para perokok tahaddus bin ni’mah (menyebutkan syukur) terhadap cukai rokok yang memberikan solusi kesembuhan atas sakitnya BPJS, Tulus Abadi tetap konsisten bersuara. Ia menganggap pajak rokok menutup BPJS tersebut bisa menimbulkan sesat pikir di masyarakat dan menyebabkan para perokok berbangga diri merasa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Alasannya sederhana dan klise, bahwa banyak penyakit yang ditanggung BPJS disebabkan oleh rokok. Ia menutup mata, kalau faktor orang terserang penyakit bisa dari manapun, bahkan dari nasi yang bangsa Indonesia konsumsi setiap hari, atau bahkan dari cangcut yang dipakai tanpa dicuci berbulan-bulan. Pokoknya, BPJS merugi karena masih banyak orang penyakitan di negeri ini, dan rokok adalah penyebabnya.

Tulus Abadi sepertinya lupa misi mulia yang diusung organisasinya. “YLKI berdiri dilandasi karena keprihatinan sekelompok ibu-ibu akan kegemaran konsumen Indonesia pada waktu itu dalam mengonsumsi produk luar negeri. Terdorong keinginan agar produk dalam negeri mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, maka para pendiri YLKI tersebut menyelenggarakan aksi promosi berbagai jenis hasil industri dalam negeri.”

“Latar belakang dan tujuan: Berdirinya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau dikenal dengan YLKI pada 11 Mei 1973 berawal dari kepedulian sekelompok masyarakat akan penggunaan produk-produk dalam negeri serta bagaimana melindunginya.

Kalimat itu dapat dibaca siapapun di official website YLKI (ylki.or.id/profile/tentang-kami/). Berlandaskan pada sejarah yang amat mulia itu, seharusnya Tulus Abadi tidak berniat membunuh IHT yang dari hulu sampai hilirnya dikelola oleh masyarakat sendiri.

Akan menjadi lebih baik, jika Tulus Abadi mengampanyekan ‘hisaplah kretek Indonesia, karena ia adalah produk asli Indonesia. Tembakau dan cengkehnya ditanam orang Indonesia. Produksi rokoknya dibuat dari kecakapan tangan-tangan masyarakat Indonesia. Cintai produk-produk dalam negeri”. Bukan malah mendorong pemerintah untuk menghujamkan panah ke jantung industri kretek.

“Sedangkan tujuannya adalah memberi bimbingan dan perlindungan kepada masyarakat konsumen menuju kesejahteraan keluarga.

 Bidang dan bentuk kegiatan: Bidang kegiatan utama lembaga ini adalah perlindungan konsumen, di samping bidang lainnya seperti kesehatan, air bersih dan sanitasi, gender, dan hukum sebagai penunjangnya. Bidang-bidang ini dilaksanakan terutama dalam bentuk studi, penelitian, survai, pendidikan dan penerbitan, advokasi, seminar, pemberdayaan masyarakat konsumen, dan pengembangan dan pendampingan masyarakat.”

Tujuan mulia ini sudah dilakukan Tulus Abadi, namun ia salah memperkirakan satu hal. Tulus Abadi tidak begitu peka, banyak masyarakat yang sejahtera atas Industri Hasil Tembakau. Petani tembakau dan cengkeh sejahtera, kecukupan materi dan kebahagiaan. Buruh pabrik rokok juga demikian. Apalagi para perokok yang budiman bersahaja. Mereka bahagia, sehat, sakit paling flu dan pilek saja. Tegak berdiri di tengah ombang-ambing antirokok, tanpa uluran tangan organisasi yang memperjuangkan hak konsumen tersebut.

Tapi pada akhirnya kita harus menyadari, kalimat yang tertulis dalam website tersebut. “Informasi yang terdapat dalam website ylki.or.id ini adalah untuk tujuan umum. Hasil Pengujian atau kajian yang dimuat di laman ini tidak diperkenankan untuk digunakan sebagai promosi, dan atau jaminan mutu produk.”  Silahkan disimpulkan sendiri apa maksudnya kalimat ini.

Bagaimanapun, kretekus tak pernah mengharapkan pembelaan dari Tulus Abadi atau YLKI, karena sebagaimana IHT yang mandiri dan berdaulat, kretekus juga merdeka atas pilihannya menghisap lintingan hijau yang ditanam dan diproduksi oleh bangsa sendiri. Mereka juga santun, merokok di ruang merokok, meski ruang merokok mereka banyak yang tidak manusiawi.