Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast

Selepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para “sufi” Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).

Di dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.

“Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,” kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.

Saya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.

Di tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.

Saya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.

Mas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. “Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,” candanya.

Ia menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.

Sejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.

Nama Sin sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung Sin telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa‘ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.

Komposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.

Rokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.

Dari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. “Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),” ungkap Mas Syuaib.

“Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,” pungkas Mas Syuaib.

Begitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm

Ketua Komite Nasional Pelestarian Kretek

ARTIKEL TERKAIT

Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional

Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok…

Kisah Sebatang Kretek

Usai sebuah diskusi tentang Aceh, jelang akhir bulan Mei 2005, kami diundang untuk sebuah santap sore di sebuah gedung tidak…

Para Wali yang Mendidik dengan Rokok

Di dunia ini terdapat banyak hal yang meluluhlantakkan nalar kita sebagai manusia. Salah satunya adalah bagaimana cara kiai mendidikan umat…

Kopi dan Kretek untuk Sukarelawan

Hingga hari ini, satu-satunya film seri yang selesai saya tonton hingga episode terakhir adalah Prison Break. Satu yang hingga kini…