\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
<\/p>\n\n\n\n

1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
<\/p>\n\n\n\n

1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
<\/p>\n\n\n\n

1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
<\/p>\n\n\n\n

Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
<\/p>\n\n\n\n

1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Polemik regulasi PP 109 ini kembali muncul, kali ini pemerintah hendak merevisi pasal-pasal PP 109 Tahun 2012. Wacana pemerintah yang dikepalai oleh Kementerian Kesehatan terkesan diam-diam dan mencurigakan. Terbukti dengan tidak dilibatkannya stakeholder pertembakauan dalam wacana revisi. Bahkan kementerian-kementerian yang turut memayungi sektor IHT, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian turut bersuara menolak diteruskannya wacana revisi PP 109 ini.
<\/p>\n\n\n\n

Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
<\/p>\n\n\n\n

Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
<\/p>\n\n\n\n

1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

PP 109 Tahun 2012 sangat sarat akan kepentingan pengendalian tembakau. Jika kita melihat pasal-pasal yang terkandung di dalamnya terdapat klausul yang sama persis dengan pasal-pasal yang ada pada FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Padahal Indonesia belum mengaksesi FCTC sampai dengan detik ini.
<\/p>\n\n\n\n

Polemik regulasi PP 109 ini kembali muncul, kali ini pemerintah hendak merevisi pasal-pasal PP 109 Tahun 2012. Wacana pemerintah yang dikepalai oleh Kementerian Kesehatan terkesan diam-diam dan mencurigakan. Terbukti dengan tidak dilibatkannya stakeholder pertembakauan dalam wacana revisi. Bahkan kementerian-kementerian yang turut memayungi sektor IHT, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian turut bersuara menolak diteruskannya wacana revisi PP 109 ini.
<\/p>\n\n\n\n

Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
<\/p>\n\n\n\n

Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
<\/p>\n\n\n\n

1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

PP 109 Tahun 2012 sangat sarat akan kepentingan pengendalian tembakau. Jika kita melihat pasal-pasal yang terkandung di dalamnya terdapat klausul yang sama persis dengan pasal-pasal yang ada pada FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Padahal Indonesia belum mengaksesi FCTC sampai dengan detik ini.
<\/p>\n\n\n\n

Polemik regulasi PP 109 ini kembali muncul, kali ini pemerintah hendak merevisi pasal-pasal PP 109 Tahun 2012. Wacana pemerintah yang dikepalai oleh Kementerian Kesehatan terkesan diam-diam dan mencurigakan. Terbukti dengan tidak dilibatkannya stakeholder pertembakauan dalam wacana revisi. Bahkan kementerian-kementerian yang turut memayungi sektor IHT, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian turut bersuara menolak diteruskannya wacana revisi PP 109 ini.
<\/p>\n\n\n\n

Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
<\/p>\n\n\n\n

Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
<\/p>\n\n\n\n

1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dulu ketika PP 109 Tahun 2012 hendak dikeluarkan, terdapat gejolak berupa penolakan dari kalangan stakeholder pertembakauan dan elemen masyarakat lainnya. Ribuan petani tembakau dan cengkeh serta buruh pabrik rokok di berbagai daerah melakukan demo memprotes untuk tidak disahkannya PP 109 Tahun 2012.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

PP 109 Tahun 2012 sangat sarat akan kepentingan pengendalian tembakau. Jika kita melihat pasal-pasal yang terkandung di dalamnya terdapat klausul yang sama persis dengan pasal-pasal yang ada pada FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Padahal Indonesia belum mengaksesi FCTC sampai dengan detik ini.
<\/p>\n\n\n\n

Polemik regulasi PP 109 ini kembali muncul, kali ini pemerintah hendak merevisi pasal-pasal PP 109 Tahun 2012. Wacana pemerintah yang dikepalai oleh Kementerian Kesehatan terkesan diam-diam dan mencurigakan. Terbukti dengan tidak dilibatkannya stakeholder pertembakauan dalam wacana revisi. Bahkan kementerian-kementerian yang turut memayungi sektor IHT, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian turut bersuara menolak diteruskannya wacana revisi PP 109 ini.
<\/p>\n\n\n\n

Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
<\/p>\n\n\n\n

Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
<\/p>\n\n\n\n

1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) kembali mendapat tekanan, kali ini tekanan datang dari wacana pemerintah merevisi PP 109 Tahun 2012. Perlu diketahui selama ini PP 109 menjadi momok menakutkan bagi pelaku Industri Hasil Tembakau (IHT), sebab peraturan ini selalu menjadi ujung tombak utama lahirnya kebijakan-kebijakan eksesif lain yang mengatur mengenai IHT. 
<\/p>\n\n\n\n

Dulu ketika PP 109 Tahun 2012 hendak dikeluarkan, terdapat gejolak berupa penolakan dari kalangan stakeholder pertembakauan dan elemen masyarakat lainnya. Ribuan petani tembakau dan cengkeh serta buruh pabrik rokok di berbagai daerah melakukan demo memprotes untuk tidak disahkannya PP 109 Tahun 2012.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

PP 109 Tahun 2012 sangat sarat akan kepentingan pengendalian tembakau. Jika kita melihat pasal-pasal yang terkandung di dalamnya terdapat klausul yang sama persis dengan pasal-pasal yang ada pada FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Padahal Indonesia belum mengaksesi FCTC sampai dengan detik ini.
<\/p>\n\n\n\n

Polemik regulasi PP 109 ini kembali muncul, kali ini pemerintah hendak merevisi pasal-pasal PP 109 Tahun 2012. Wacana pemerintah yang dikepalai oleh Kementerian Kesehatan terkesan diam-diam dan mencurigakan. Terbukti dengan tidak dilibatkannya stakeholder pertembakauan dalam wacana revisi. Bahkan kementerian-kementerian yang turut memayungi sektor IHT, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian turut bersuara menolak diteruskannya wacana revisi PP 109 ini.
<\/p>\n\n\n\n

Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
<\/p>\n\n\n\n

Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
<\/p>\n\n\n\n

1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
<\/p>\n\n\n\n

Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
<\/p>\n\n\n\n

3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
<\/p>\n\n\n\n

Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
  1. Fasilitasi dan koordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten\/Kota<\/li>
  2. Monitoring dan evaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah dan Kabupaten\/Kota<\/li>
  3. Melakukan verifikasi Rancangan Kegiatan Kabupaten\/Kota<\/li>
  4. Konsultasi dengan pemerintah pusat<\/li>
  5. Melaporkan pelaksanaan kegiatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau semester I dan semester II<\/li><\/ol>\n","post_title":"Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memahami-seluk-beluk-regulasi-dan-kebijakan-dana-bagi-hasil-cukai-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-11 07:17:26","post_modified_gmt":"2019-12-11 00:17:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6264","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6254,"post_author":"883","post_date":"2019-12-03 07:03:10","post_date_gmt":"2019-12-03 00:03:10","post_content":"\n

    Industri Hasil Tembakau (IHT) kembali mendapat tekanan, kali ini tekanan datang dari wacana pemerintah merevisi PP 109 Tahun 2012. Perlu diketahui selama ini PP 109 menjadi momok menakutkan bagi pelaku Industri Hasil Tembakau (IHT), sebab peraturan ini selalu menjadi ujung tombak utama lahirnya kebijakan-kebijakan eksesif lain yang mengatur mengenai IHT. 
    <\/p>\n\n\n\n

    Dulu ketika PP 109 Tahun 2012 hendak dikeluarkan, terdapat gejolak berupa penolakan dari kalangan stakeholder pertembakauan dan elemen masyarakat lainnya. Ribuan petani tembakau dan cengkeh serta buruh pabrik rokok di berbagai daerah melakukan demo memprotes untuk tidak disahkannya PP 109 Tahun 2012.<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

    PP 109 Tahun 2012 sangat sarat akan kepentingan pengendalian tembakau. Jika kita melihat pasal-pasal yang terkandung di dalamnya terdapat klausul yang sama persis dengan pasal-pasal yang ada pada FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Padahal Indonesia belum mengaksesi FCTC sampai dengan detik ini.
    <\/p>\n\n\n\n

    Polemik regulasi PP 109 ini kembali muncul, kali ini pemerintah hendak merevisi pasal-pasal PP 109 Tahun 2012. Wacana pemerintah yang dikepalai oleh Kementerian Kesehatan terkesan diam-diam dan mencurigakan. Terbukti dengan tidak dilibatkannya stakeholder pertembakauan dalam wacana revisi. Bahkan kementerian-kementerian yang turut memayungi sektor IHT, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian turut bersuara menolak diteruskannya wacana revisi PP 109 ini.
    <\/p>\n\n\n\n

    Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
    <\/p>\n\n\n\n

    Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

    Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
    <\/p>\n\n\n\n

    1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
    <\/p>\n\n\n\n

    Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
    <\/p>\n\n\n\n

    2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
    <\/p>\n\n\n\n

    Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
    <\/p>\n\n\n\n

    Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
    <\/p>\n\n\n\n

    3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
    <\/p>\n\n\n\n

    Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
    <\/p>\n\n\n\n

    Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
    <\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

    Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

    Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

    Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    \"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

    Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

    Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

    Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

    Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    \"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

    Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

    Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

    Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

    Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

    Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

    BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

    Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

    Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

    Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

    Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

    Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

    Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

    Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

    \n

    Selain Gubernur dan Bupati\/Walikota terdapat sekretariatan tersendiri sebagai kordinator DBH-CHT yang diketuai Biro Keuangan sekretaris daerah (Sekda) di tiap gubernuran atau ditingkat kabupaten\/walikota. Mereka dinobatkan sebagai pembantu Gubernur atau Bupati dan Walikota dalam pengelolaan DBH-CHT, dengan bertugas:<\/p>\n\n\n\n

    1. Fasilitasi dan koordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten\/Kota<\/li>
    2. Monitoring dan evaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah dan Kabupaten\/Kota<\/li>
    3. Melakukan verifikasi Rancangan Kegiatan Kabupaten\/Kota<\/li>
    4. Konsultasi dengan pemerintah pusat<\/li>
    5. Melaporkan pelaksanaan kegiatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau semester I dan semester II<\/li><\/ol>\n","post_title":"Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memahami-seluk-beluk-regulasi-dan-kebijakan-dana-bagi-hasil-cukai-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-11 07:17:26","post_modified_gmt":"2019-12-11 00:17:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6264","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6254,"post_author":"883","post_date":"2019-12-03 07:03:10","post_date_gmt":"2019-12-03 00:03:10","post_content":"\n

      Industri Hasil Tembakau (IHT) kembali mendapat tekanan, kali ini tekanan datang dari wacana pemerintah merevisi PP 109 Tahun 2012. Perlu diketahui selama ini PP 109 menjadi momok menakutkan bagi pelaku Industri Hasil Tembakau (IHT), sebab peraturan ini selalu menjadi ujung tombak utama lahirnya kebijakan-kebijakan eksesif lain yang mengatur mengenai IHT. 
      <\/p>\n\n\n\n

      Dulu ketika PP 109 Tahun 2012 hendak dikeluarkan, terdapat gejolak berupa penolakan dari kalangan stakeholder pertembakauan dan elemen masyarakat lainnya. Ribuan petani tembakau dan cengkeh serta buruh pabrik rokok di berbagai daerah melakukan demo memprotes untuk tidak disahkannya PP 109 Tahun 2012.<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

      PP 109 Tahun 2012 sangat sarat akan kepentingan pengendalian tembakau. Jika kita melihat pasal-pasal yang terkandung di dalamnya terdapat klausul yang sama persis dengan pasal-pasal yang ada pada FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Padahal Indonesia belum mengaksesi FCTC sampai dengan detik ini.
      <\/p>\n\n\n\n

      Polemik regulasi PP 109 ini kembali muncul, kali ini pemerintah hendak merevisi pasal-pasal PP 109 Tahun 2012. Wacana pemerintah yang dikepalai oleh Kementerian Kesehatan terkesan diam-diam dan mencurigakan. Terbukti dengan tidak dilibatkannya stakeholder pertembakauan dalam wacana revisi. Bahkan kementerian-kementerian yang turut memayungi sektor IHT, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian turut bersuara menolak diteruskannya wacana revisi PP 109 ini.
      <\/p>\n\n\n\n

      Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
      <\/p>\n\n\n\n

      Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

      Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
      <\/p>\n\n\n\n

      1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
      <\/p>\n\n\n\n

      Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
      <\/p>\n\n\n\n

      2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
      <\/p>\n\n\n\n

      Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
      <\/p>\n\n\n\n

      Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
      <\/p>\n\n\n\n

      3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
      <\/p>\n\n\n\n

      Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
      <\/p>\n\n\n\n

      Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
      <\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

      Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

      Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

      Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      \"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

      Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

      Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

      Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

      Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      \"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

      Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

      Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

      Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

      Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

      Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

      BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

      Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

      Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

      Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

      Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

      Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

      Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

      Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

      \n
      1. Menetapkan petunjuk pelaksanaan penggunaan DBH CHT;<\/li>
      2. Menetapkan koordinator pengelola DBH CHT;<\/li>
      3. Menyampaikan rancangan program kegiatan dan penganggaran setiap awal tahun ke Gubernur; <\/li>
      4. Menyampaikan laporan realisasi penggunaan per semester ke Gubernur;<\/li>
      5. Bertanggung jawab untuk menggerakkan, mendorong, dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan prioritas & karakteristik daerah dan sesuai ketentuan. <\/li><\/ol>\n\n\n\n

        Selain Gubernur dan Bupati\/Walikota terdapat sekretariatan tersendiri sebagai kordinator DBH-CHT yang diketuai Biro Keuangan sekretaris daerah (Sekda) di tiap gubernuran atau ditingkat kabupaten\/walikota. Mereka dinobatkan sebagai pembantu Gubernur atau Bupati dan Walikota dalam pengelolaan DBH-CHT, dengan bertugas:<\/p>\n\n\n\n

        1. Fasilitasi dan koordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten\/Kota<\/li>
        2. Monitoring dan evaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah dan Kabupaten\/Kota<\/li>
        3. Melakukan verifikasi Rancangan Kegiatan Kabupaten\/Kota<\/li>
        4. Konsultasi dengan pemerintah pusat<\/li>
        5. Melaporkan pelaksanaan kegiatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau semester I dan semester II<\/li><\/ol>\n","post_title":"Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memahami-seluk-beluk-regulasi-dan-kebijakan-dana-bagi-hasil-cukai-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-11 07:17:26","post_modified_gmt":"2019-12-11 00:17:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6264","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6254,"post_author":"883","post_date":"2019-12-03 07:03:10","post_date_gmt":"2019-12-03 00:03:10","post_content":"\n

          Industri Hasil Tembakau (IHT) kembali mendapat tekanan, kali ini tekanan datang dari wacana pemerintah merevisi PP 109 Tahun 2012. Perlu diketahui selama ini PP 109 menjadi momok menakutkan bagi pelaku Industri Hasil Tembakau (IHT), sebab peraturan ini selalu menjadi ujung tombak utama lahirnya kebijakan-kebijakan eksesif lain yang mengatur mengenai IHT. 
          <\/p>\n\n\n\n

          Dulu ketika PP 109 Tahun 2012 hendak dikeluarkan, terdapat gejolak berupa penolakan dari kalangan stakeholder pertembakauan dan elemen masyarakat lainnya. Ribuan petani tembakau dan cengkeh serta buruh pabrik rokok di berbagai daerah melakukan demo memprotes untuk tidak disahkannya PP 109 Tahun 2012.<\/p>\n\n\n\n

          Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

          PP 109 Tahun 2012 sangat sarat akan kepentingan pengendalian tembakau. Jika kita melihat pasal-pasal yang terkandung di dalamnya terdapat klausul yang sama persis dengan pasal-pasal yang ada pada FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Padahal Indonesia belum mengaksesi FCTC sampai dengan detik ini.
          <\/p>\n\n\n\n

          Polemik regulasi PP 109 ini kembali muncul, kali ini pemerintah hendak merevisi pasal-pasal PP 109 Tahun 2012. Wacana pemerintah yang dikepalai oleh Kementerian Kesehatan terkesan diam-diam dan mencurigakan. Terbukti dengan tidak dilibatkannya stakeholder pertembakauan dalam wacana revisi. Bahkan kementerian-kementerian yang turut memayungi sektor IHT, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian turut bersuara menolak diteruskannya wacana revisi PP 109 ini.
          <\/p>\n\n\n\n

          Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
          <\/p>\n\n\n\n

          Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

          Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

          Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
          <\/p>\n\n\n\n

          1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
          <\/p>\n\n\n\n

          Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
          <\/p>\n\n\n\n

          2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
          <\/p>\n\n\n\n

          Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
          <\/p>\n\n\n\n

          Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
          <\/p>\n\n\n\n

          3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
          <\/p>\n\n\n\n

          Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
          <\/p>\n\n\n\n

          Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
          <\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

          Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

          Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

          Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          \"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

          Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

          Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

          Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

          Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          \"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

          Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

          Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

          Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

          Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

          Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

          BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

          Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

          Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

          Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

          Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

          Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

          Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

          Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

          Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

          \n

          Peran Bupati\/Walikota dalam DBH-CHT:<\/p>\n\n\n\n

          1. Menetapkan petunjuk pelaksanaan penggunaan DBH CHT;<\/li>
          2. Menetapkan koordinator pengelola DBH CHT;<\/li>
          3. Menyampaikan rancangan program kegiatan dan penganggaran setiap awal tahun ke Gubernur; <\/li>
          4. Menyampaikan laporan realisasi penggunaan per semester ke Gubernur;<\/li>
          5. Bertanggung jawab untuk menggerakkan, mendorong, dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan prioritas & karakteristik daerah dan sesuai ketentuan. <\/li><\/ol>\n\n\n\n

            Selain Gubernur dan Bupati\/Walikota terdapat sekretariatan tersendiri sebagai kordinator DBH-CHT yang diketuai Biro Keuangan sekretaris daerah (Sekda) di tiap gubernuran atau ditingkat kabupaten\/walikota. Mereka dinobatkan sebagai pembantu Gubernur atau Bupati dan Walikota dalam pengelolaan DBH-CHT, dengan bertugas:<\/p>\n\n\n\n

            1. Fasilitasi dan koordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten\/Kota<\/li>
            2. Monitoring dan evaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah dan Kabupaten\/Kota<\/li>
            3. Melakukan verifikasi Rancangan Kegiatan Kabupaten\/Kota<\/li>
            4. Konsultasi dengan pemerintah pusat<\/li>
            5. Melaporkan pelaksanaan kegiatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau semester I dan semester II<\/li><\/ol>\n","post_title":"Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memahami-seluk-beluk-regulasi-dan-kebijakan-dana-bagi-hasil-cukai-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-11 07:17:26","post_modified_gmt":"2019-12-11 00:17:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6264","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6254,"post_author":"883","post_date":"2019-12-03 07:03:10","post_date_gmt":"2019-12-03 00:03:10","post_content":"\n

              Industri Hasil Tembakau (IHT) kembali mendapat tekanan, kali ini tekanan datang dari wacana pemerintah merevisi PP 109 Tahun 2012. Perlu diketahui selama ini PP 109 menjadi momok menakutkan bagi pelaku Industri Hasil Tembakau (IHT), sebab peraturan ini selalu menjadi ujung tombak utama lahirnya kebijakan-kebijakan eksesif lain yang mengatur mengenai IHT. 
              <\/p>\n\n\n\n

              Dulu ketika PP 109 Tahun 2012 hendak dikeluarkan, terdapat gejolak berupa penolakan dari kalangan stakeholder pertembakauan dan elemen masyarakat lainnya. Ribuan petani tembakau dan cengkeh serta buruh pabrik rokok di berbagai daerah melakukan demo memprotes untuk tidak disahkannya PP 109 Tahun 2012.<\/p>\n\n\n\n

              Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

              PP 109 Tahun 2012 sangat sarat akan kepentingan pengendalian tembakau. Jika kita melihat pasal-pasal yang terkandung di dalamnya terdapat klausul yang sama persis dengan pasal-pasal yang ada pada FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Padahal Indonesia belum mengaksesi FCTC sampai dengan detik ini.
              <\/p>\n\n\n\n

              Polemik regulasi PP 109 ini kembali muncul, kali ini pemerintah hendak merevisi pasal-pasal PP 109 Tahun 2012. Wacana pemerintah yang dikepalai oleh Kementerian Kesehatan terkesan diam-diam dan mencurigakan. Terbukti dengan tidak dilibatkannya stakeholder pertembakauan dalam wacana revisi. Bahkan kementerian-kementerian yang turut memayungi sektor IHT, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian turut bersuara menolak diteruskannya wacana revisi PP 109 ini.
              <\/p>\n\n\n\n

              Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
              <\/p>\n\n\n\n

              Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

              Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

              Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
              <\/p>\n\n\n\n

              1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
              <\/p>\n\n\n\n

              Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
              <\/p>\n\n\n\n

              2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
              <\/p>\n\n\n\n

              Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
              <\/p>\n\n\n\n

              Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
              <\/p>\n\n\n\n

              3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
              <\/p>\n\n\n\n

              Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
              <\/p>\n\n\n\n

              Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
              <\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

              Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

              Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

              Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              \"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

              Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

              Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

              Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

              Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              \"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

              Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

              Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

              Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

              Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

              Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

              BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

              Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

              Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

              Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

              Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

              Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

              Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

              Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

              Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

              \n
              1. Menyampaikan Pergub kepada Menteri Keuangan cq. DJPK;<\/li>
              2. Mengelola, menggunakan dan mengatur pembagian DBHCHT;<\/li>
              3. Menetapkan pedoman penggunaan DBHCHT;<\/li>
              4. Menetapkan koordinator pengelola DBHCHT;<\/li>
              5. Menyampaikan rancangan program kegiatan dan penganggaran Provinsi, kabupaten dan kota setiap awal tahun ke Menkeu;<\/li>
              6. Menyampaikan laporan realisasi penggunaan provinsi, kabupaten dan kota per semester kepada Menkeu;<\/li>
              7. Bertanggung jawab untuk menggerakkan, mendorong, dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan prioritas & karakteristik daerah dan sesuai ketentuan. <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                Peran Bupati\/Walikota dalam DBH-CHT:<\/p>\n\n\n\n

                1. Menetapkan petunjuk pelaksanaan penggunaan DBH CHT;<\/li>
                2. Menetapkan koordinator pengelola DBH CHT;<\/li>
                3. Menyampaikan rancangan program kegiatan dan penganggaran setiap awal tahun ke Gubernur; <\/li>
                4. Menyampaikan laporan realisasi penggunaan per semester ke Gubernur;<\/li>
                5. Bertanggung jawab untuk menggerakkan, mendorong, dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan prioritas & karakteristik daerah dan sesuai ketentuan. <\/li><\/ol>\n\n\n\n

                  Selain Gubernur dan Bupati\/Walikota terdapat sekretariatan tersendiri sebagai kordinator DBH-CHT yang diketuai Biro Keuangan sekretaris daerah (Sekda) di tiap gubernuran atau ditingkat kabupaten\/walikota. Mereka dinobatkan sebagai pembantu Gubernur atau Bupati dan Walikota dalam pengelolaan DBH-CHT, dengan bertugas:<\/p>\n\n\n\n

                  1. Fasilitasi dan koordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten\/Kota<\/li>
                  2. Monitoring dan evaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah dan Kabupaten\/Kota<\/li>
                  3. Melakukan verifikasi Rancangan Kegiatan Kabupaten\/Kota<\/li>
                  4. Konsultasi dengan pemerintah pusat<\/li>
                  5. Melaporkan pelaksanaan kegiatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau semester I dan semester II<\/li><\/ol>\n","post_title":"Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memahami-seluk-beluk-regulasi-dan-kebijakan-dana-bagi-hasil-cukai-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-11 07:17:26","post_modified_gmt":"2019-12-11 00:17:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6264","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6254,"post_author":"883","post_date":"2019-12-03 07:03:10","post_date_gmt":"2019-12-03 00:03:10","post_content":"\n

                    Industri Hasil Tembakau (IHT) kembali mendapat tekanan, kali ini tekanan datang dari wacana pemerintah merevisi PP 109 Tahun 2012. Perlu diketahui selama ini PP 109 menjadi momok menakutkan bagi pelaku Industri Hasil Tembakau (IHT), sebab peraturan ini selalu menjadi ujung tombak utama lahirnya kebijakan-kebijakan eksesif lain yang mengatur mengenai IHT. 
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Dulu ketika PP 109 Tahun 2012 hendak dikeluarkan, terdapat gejolak berupa penolakan dari kalangan stakeholder pertembakauan dan elemen masyarakat lainnya. Ribuan petani tembakau dan cengkeh serta buruh pabrik rokok di berbagai daerah melakukan demo memprotes untuk tidak disahkannya PP 109 Tahun 2012.<\/p>\n\n\n\n

                    Baca: Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

                    PP 109 Tahun 2012 sangat sarat akan kepentingan pengendalian tembakau. Jika kita melihat pasal-pasal yang terkandung di dalamnya terdapat klausul yang sama persis dengan pasal-pasal yang ada pada FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Padahal Indonesia belum mengaksesi FCTC sampai dengan detik ini.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Polemik regulasi PP 109 ini kembali muncul, kali ini pemerintah hendak merevisi pasal-pasal PP 109 Tahun 2012. Wacana pemerintah yang dikepalai oleh Kementerian Kesehatan terkesan diam-diam dan mencurigakan. Terbukti dengan tidak dilibatkannya stakeholder pertembakauan dalam wacana revisi. Bahkan kementerian-kementerian yang turut memayungi sektor IHT, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian turut bersuara menolak diteruskannya wacana revisi PP 109 ini.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Melalui pemberitaan yang ada di berbagai media, revisi PP 109 hendak menyasar pasal 17 ayat 4 yang mengatur tentang gambar peringatan pada bungkus rokok. Pasal 17 ayat 4 ini nantinya diwacanakan akan direvisi menjadi perluasan gambar peringatan pada bungkus rokok dari 40 persen menjadi 90 persen.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Pasal tersebut berbunyi \"dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata \"Peringatan\" dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya\".<\/p>\n\n\n\n

                    Baca: Menilik Logika Sembrono Kemenkes dalam Pelarangan Iklan Rokok di Internet<\/a><\/p>\n\n\n\n

                    Tentu wacana ini sangat berbahaya bagi kepentingan eksistensi Industri Hasil Tembakau dalam negeri. Aturan ini akan berdampak:
                    <\/p>\n\n\n\n

                    1. Naiknya cost produksi pabrikan karena harus memperluas cetakan gambar dan tulisan peringatan. 
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Sejak kelahiran regulasi ini, sudah banyak pabrikan yang terdampak, utamanya pabrikan kecil. Banyak dari pabrikan kecil yang harus mengeluarkan ekstra cost untuk mencetak gambar peringatan sebesar 40 persen pada bungkus rokok mereka. Akibat bertambahnya cost tersebut, pabrikan kecil tidak dapat bertahan sehingga banyak yang memilih menutup pabrik dan usahanya.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    2. Berpotensi meningkatkan rokok ilegal.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Dengan diperluasnya gambar peringatan dari 40 persen menjadi 90 persen, maka setiap pabrikan tidak dapat lagi menampilkan entitas tertentu untuk suatu produk. Indonesia sendiri memiliki keragaman produk hasil tembakau, apalagi pada produk kretek yang memiliki entitas yang beragam.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Dengan kaburnya entitas suatu produk, barang tentu nantinya produk rokok ilegal dengan mudah dipasarkan, karena tidak perlu repot meniru desain bungkus rokok yang selama ini entitasnya beragam.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    3. Melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). 
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Produk hasil tembakau di Indonesia berbeda dengan negara lainnya. Kita memiliki jenis produk hasil tembakau yang beragam jenis, utamanya pada produk kretek. Melalui entitas karya seni grafis pada bungkus kretek inilah yang menjadikan produk hasil tembakau di Indonesia menjadi khas.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Dari 3 dampak yang dipaparkan di atas, maka pemerintah seharusnya bersikap bijak dalam mengambil keputusan merevisi PP 109 ini. Sudah terlalu banyak regulasi yag membebani Industri Hasil Tembakau, jangan sampai wacana revisi ini kembali menjadi beban, karena melihat RIA (Regulatory Impact Analysis) yang mengerikan bagi masa depan Industri Hasil Tembakau.
                    <\/p>\n","post_title":"Wacana Revisi PP 109 Tahun 2012 dan RIA (Regulatory Impact Analysis) bagi Masa Depan Industri Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wacana-revisi-pp-109-tahun-2012-dan-ria-regulatory-impact-analysis-bagi-masa-depan-industri-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-03 07:03:12","post_modified_gmt":"2019-12-03 00:03:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

                    Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

                    Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

                    Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    \"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

                    Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

                    Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

                    Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

                    Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    \"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

                    Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                    Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6220,"post_author":"926","post_date":"2019-11-11 06:22:59","post_date_gmt":"2019-11-10 23:22:59","post_content":"\n

                    Mengapa tarif cukai rokok tahun 2020 naik sangat tinggi hingga 23%, yang biasanya hanya 8-11%, dan harga rokok terbang sampai 35%? Kenaikan ini secara fiskal maupun regulatif kurang memiliki dasar argumentatif. Apalagi Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan RAPBN sebelumnya sepakat menaikkan 9%.<\/p>\n\n\n\n

                    Revisi kesepakatan dilakukan sepihak oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Sri) dalam rapat terbatas kabinet, 16 September 2019. Cara ini selain tidak lazim juga terkesan fait accompli<\/em> terhadap DPR pun Presiden. Atas hal ini saya dalam wawancara dengan radio di akhir musim kemarau September 2019 lalu, menduga, Sri kemungkinan ingin mempersembahkan kado istimewa kepada kelompok antitembakau di akhir masa jabatannya sebagai Menkeu di kabinet lalu.<\/p>\n\n\n\n

                    Dugaan itu benar. Seorang teman mengirim link dan menemukan kabar mengagetkan tentang Sri dari Amerika. Dalam laporan di laman resmi Bloomberg Philathropies (BP), Sri bersama pejabat dari berbagai negara diangkat sebagai anggota task force<\/em> kebijakan fiskal untuk kesehatan di organisasi itu, April 2018. (Lihat: MEMBERS OF THE TASK FORCE ON FISCAL POLICY FOR HEALTH\u00a0)<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n

                    BP adalah lembaga swasta yang didirikan mantan Walikota New York tiga periode dan pengusaha media Michael Bloomberg.<\/strong> Misi utamanya pengendalian tembakau. BP melalui Bloomberg Initiative menyalurkan dana milyaran rupiah untuk kegiatan antirokok di seluruh dunia.<\/strong> Di antaranya hinggap ke rekening banyak LSM dan sedikit ke lembaga pemerintah di Indonesia. Program-program yang sudah dan masih berjalan antara lain asistensi penyusunan RUU, Perda dan regulasi pengendalian dan pengalihan tanaman tembakau ke tanaman lain, pengaturan larangan merokok, larangan memajang rokok di gerai penjualan, sampai pemaksaan peningkatan tarif cukai rokok hingga 70% dari harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

                    Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

                    Pengaju proposal donor itu di Indonesia antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Bali, kumpulan wartawan AJI Jakarta, Universitas Indonesia, Muhammadiyah, ICW, lembaga dokter dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), KPAI, juga Yayasan Lentera Anak. Kedua lembaga terakhir beberapa bulan lalu menyoal audisi bakat badminton anak Indonesia oleh PB Djarum, yang ramai diperbincangkan publik.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                    Selain mendonasikan uang miliknya, Mike juga mengumpulkan dana dari berbagai korporasi farmasi, antara lain Pharmacia & Upjohn, Novartis dan GlaxoWellcome. Peneliti dari International for Global Justice (IGJ) dalam buku \"Kriminalisasi Menuju Monopoli\", menyatakan, Mike adalah pemilik saham di perusahaan farmasi raksasa, Novartis.<\/p>\n\n\n\n

                    Tujuan penyaluran dana itu, menurut peneliti dan penulis Amerika Dr. Wanda Hamilton dalam buku yang sangat menghebohkan jagad farmasi dan perumahsakitan dunia, \"Nic War\", adalah untuk membangun program \"pharmacological aids to smoking cessation\"<\/em> (bantuan farmasikologis untuk berhenti merokok). Produk-produk Nicotin Replacement Therapy<\/em> (NRT) dimaksudkan untuk merebut ceruk dagang nikotin melalui bantuan badan resmi PBB WHO. Program ini makin gencar dilakukan sejak Ketua WHO dijabat mantan direktur Novartis Gro Harlem Brundtland, tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n

                    Mengapa perusahaan farmasi tertarik terjun ke pasar nikotin? Omset pasar nikotin dunia, menurut data Global Trend in Nicotin tahun 2017, bernilai $785 milyar, setara harta negara terkaya nomor 23 setelah Finlandia, membuat mereka tergoda memainkan bisnis nikotin ini.<\/p>\n\n\n\n

                    Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n

                    Mike memang pintar. Selain menjaga tradisi pelibatan pejabat negara dalam struktur lembaganya, juga paham titik lemah Sri. Kita tahu Sri adalah master dan doktor lulusan University of Illinois Urbana Champaign Amerika. Melalui emosi dan lobby Amerika Sri yang dikenal sangat cerdas dan independen memilih mengesampingkan kepentingan petani, buruh tembakau dan industri rokok di Indonesia. Stakeholders<\/em> yang selama ini membantu mengurangi kepusingannya mengumpulkan pamasukan negara melalui penerimaan cukai rokok plus pajak atasnya senilai kl. 200 triliun rupiah. Hampir 10% dari nilai APBN 2020.<\/p>\n\n\n\n

                    Mungkin hanya 1% kepintaran para petani, buruh rokok, dan kaum perokok, dibanding kepintaran Mike, Brundtland dan Sri. Tapi, soal membantu keuangan dan harmoni negara, ketiganya masih perlu belajar kearifan dari mereka. Secuil kepintaran yang hanya 1% itu toh masih bisa membaca dengan jernih secuil kabar tentang Sri dari laman Amerika itu. Menjadikan kami yang bodoh ini makin bisa memahami.<\/p>\n","post_title":"Secuil Kabar dari Amerika Tentang Sri Mulyani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"secuil-kabar-dari-amerika-tentang-sri-mulyani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-11 06:23:09","post_modified_gmt":"2019-11-10 23:23:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6220","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                    \n
                    1. Menetapkan Pergub tentang pembagian DBH CHT, dengan komposisi :