Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n
Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n
Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n
Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n
Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n
Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n
Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n
Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n
Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n
Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n
Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan. Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini. Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh. Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik. Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong> Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nAntitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n