\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5970,"post_author":"845","post_date":"2019-08-18 11:19:44","post_date_gmt":"2019-08-18 04:19:44","post_content":"\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":27},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};