\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika pemerintah saja diminta untuk tidak membuat kegetiran petani tembakau semakin menjadi-jadi, apalagi Lakpesdam NU. Bukan begitu?<\/p>\n","post_title":"Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kegagalan-lakpesdam-pbnu-dalam-melihat-produk-tembakau-alternatif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-25 15:01:00","post_modified_gmt":"2019-07-25 08:01:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5885","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lakpesdam PBNU harus ingat dhawuh Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj dalam pengantar buku Hitam Putih Tembakau, \"Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara.
Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup.\"<\/p>\n\n\n\n

Jika pemerintah saja diminta untuk tidak membuat kegetiran petani tembakau semakin menjadi-jadi, apalagi Lakpesdam NU. Bukan begitu?<\/p>\n","post_title":"Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kegagalan-lakpesdam-pbnu-dalam-melihat-produk-tembakau-alternatif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-25 15:01:00","post_modified_gmt":"2019-07-25 08:01:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5885","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n

Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n

Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n

Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n

Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n

Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n

Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Baca: KNPK Menolak Simplifikasi Tarif Cukai Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Apalagi, jumlah pabrik rokok terus mengalami pengurangan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KNPK Menolak Simplifikasi Tarif Cukai Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, produksi SKT sejak periode 2011 sampai 2017 terus menurun sebesar 5,5% per tahun. Data penurunan tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dan stakeholder pertembakauan. Dikarenakan penurunan produksi dan konsumsi SKT dapat berimbas kepada matinya industri kecil menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi, jumlah pabrik rokok terus mengalami pengurangan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KNPK Menolak Simplifikasi Tarif Cukai Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Saat ini trend produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Jika kebijakan simplifikasi cukai dan produksi diterapkan, maka rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) produksinya akan naik, sementara itu produksi SKT akan mengalami penurunan yang signifikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, produksi SKT sejak periode 2011 sampai 2017 terus menurun sebesar 5,5% per tahun. Data penurunan tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dan stakeholder pertembakauan. Dikarenakan penurunan produksi dan konsumsi SKT dapat berimbas kepada matinya industri kecil menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi, jumlah pabrik rokok terus mengalami pengurangan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KNPK Menolak Simplifikasi Tarif Cukai Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Kretek sendiri merupakan produk khas asli Indonesia yang rantai produksi dari hulu ke hilirnya dikerjakan di dalam negeri dan diolah oleh anak bangsa. Sehingga, kretek perlu dibedakan perlakuannya dengan rokok putihan. Dalam hal ini negara memang sudah seharusnya memberikan proteksi kebijakan terhadap kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Saat ini trend produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Jika kebijakan simplifikasi cukai dan produksi diterapkan, maka rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) produksinya akan naik, sementara itu produksi SKT akan mengalami penurunan yang signifikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, produksi SKT sejak periode 2011 sampai 2017 terus menurun sebesar 5,5% per tahun. Data penurunan tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dan stakeholder pertembakauan. Dikarenakan penurunan produksi dan konsumsi SKT dapat berimbas kepada matinya industri kecil menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi, jumlah pabrik rokok terus mengalami pengurangan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KNPK Menolak Simplifikasi Tarif Cukai Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Dalam kebijakan tarif cukai dan produksinya, kretek jelas harus dibedakan dengan Sigaret Putih Mesin atau rokok putih. Selain secara bahan baku berbeda, Sigaret Putih Mesin juga didominasi oleh perusahaan multinasional.\u00a0<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sendiri merupakan produk khas asli Indonesia yang rantai produksi dari hulu ke hilirnya dikerjakan di dalam negeri dan diolah oleh anak bangsa. Sehingga, kretek perlu dibedakan perlakuannya dengan rokok putihan. Dalam hal ini negara memang sudah seharusnya memberikan proteksi kebijakan terhadap kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Saat ini trend produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Jika kebijakan simplifikasi cukai dan produksi diterapkan, maka rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) produksinya akan naik, sementara itu produksi SKT akan mengalami penurunan yang signifikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, produksi SKT sejak periode 2011 sampai 2017 terus menurun sebesar 5,5% per tahun. Data penurunan tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dan stakeholder pertembakauan. Dikarenakan penurunan produksi dan konsumsi SKT dapat berimbas kepada matinya industri kecil menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi, jumlah pabrik rokok terus mengalami pengurangan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KNPK Menolak Simplifikasi Tarif Cukai Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Tentu saja argumentasi tersebut tidak tepat dengan kondisi dan situasi Industri Hasil Tembakau nasional, dikarenakan Indonesia memiliki karakteristik produk hasil tembakau yang berbeda dengan negara-negara lainnya. Indonesia memiliki kretek sebagai produk khas hasil tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam kebijakan tarif cukai dan produksinya, kretek jelas harus dibedakan dengan Sigaret Putih Mesin atau rokok putih. Selain secara bahan baku berbeda, Sigaret Putih Mesin juga didominasi oleh perusahaan multinasional.\u00a0<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sendiri merupakan produk khas asli Indonesia yang rantai produksi dari hulu ke hilirnya dikerjakan di dalam negeri dan diolah oleh anak bangsa. Sehingga, kretek perlu dibedakan perlakuannya dengan rokok putihan. Dalam hal ini negara memang sudah seharusnya memberikan proteksi kebijakan terhadap kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Saat ini trend produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Jika kebijakan simplifikasi cukai dan produksi diterapkan, maka rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) produksinya akan naik, sementara itu produksi SKT akan mengalami penurunan yang signifikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, produksi SKT sejak periode 2011 sampai 2017 terus menurun sebesar 5,5% per tahun. Data penurunan tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dan stakeholder pertembakauan. Dikarenakan penurunan produksi dan konsumsi SKT dapat berimbas kepada matinya industri kecil menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi, jumlah pabrik rokok terus mengalami pengurangan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KNPK Menolak Simplifikasi Tarif Cukai Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Baca: Tarif Cukai Rokok 2019 Tidak Naik dan Simplifikasi Ditunda, KNPK: Langkah Pemerintah Sudah Tepat<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu saja argumentasi tersebut tidak tepat dengan kondisi dan situasi Industri Hasil Tembakau nasional, dikarenakan Indonesia memiliki karakteristik produk hasil tembakau yang berbeda dengan negara-negara lainnya. Indonesia memiliki kretek sebagai produk khas hasil tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam kebijakan tarif cukai dan produksinya, kretek jelas harus dibedakan dengan Sigaret Putih Mesin atau rokok putih. Selain secara bahan baku berbeda, Sigaret Putih Mesin juga didominasi oleh perusahaan multinasional.\u00a0<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sendiri merupakan produk khas asli Indonesia yang rantai produksi dari hulu ke hilirnya dikerjakan di dalam negeri dan diolah oleh anak bangsa. Sehingga, kretek perlu dibedakan perlakuannya dengan rokok putihan. Dalam hal ini negara memang sudah seharusnya memberikan proteksi kebijakan terhadap kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Saat ini trend produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Jika kebijakan simplifikasi cukai dan produksi diterapkan, maka rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) produksinya akan naik, sementara itu produksi SKT akan mengalami penurunan yang signifikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, produksi SKT sejak periode 2011 sampai 2017 terus menurun sebesar 5,5% per tahun. Data penurunan tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dan stakeholder pertembakauan. Dikarenakan penurunan produksi dan konsumsi SKT dapat berimbas kepada matinya industri kecil menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi, jumlah pabrik rokok terus mengalami pengurangan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KNPK Menolak Simplifikasi Tarif Cukai Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Hembusan isu untuk melanjutkan simplifikasi tarif cukai dan juga produksinya sedang digemakan oleh beberapa kalangan, salah satunya datang dari kelompok antirokok. Argumentasi yang dilontarkan oleh mereka adalah simplifikasi tarif cukai dan produksi dilaksanakan agar harga rokok jadi lebih mahal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai Rokok 2019 Tidak Naik dan Simplifikasi Ditunda, KNPK: Langkah Pemerintah Sudah Tepat<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu saja argumentasi tersebut tidak tepat dengan kondisi dan situasi Industri Hasil Tembakau nasional, dikarenakan Indonesia memiliki karakteristik produk hasil tembakau yang berbeda dengan negara-negara lainnya. Indonesia memiliki kretek sebagai produk khas hasil tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam kebijakan tarif cukai dan produksinya, kretek jelas harus dibedakan dengan Sigaret Putih Mesin atau rokok putih. Selain secara bahan baku berbeda, Sigaret Putih Mesin juga didominasi oleh perusahaan multinasional.\u00a0<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sendiri merupakan produk khas asli Indonesia yang rantai produksi dari hulu ke hilirnya dikerjakan di dalam negeri dan diolah oleh anak bangsa. Sehingga, kretek perlu dibedakan perlakuannya dengan rokok putihan. Dalam hal ini negara memang sudah seharusnya memberikan proteksi kebijakan terhadap kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Saat ini trend produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Jika kebijakan simplifikasi cukai dan produksi diterapkan, maka rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) produksinya akan naik, sementara itu produksi SKT akan mengalami penurunan yang signifikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, produksi SKT sejak periode 2011 sampai 2017 terus menurun sebesar 5,5% per tahun. Data penurunan tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dan stakeholder pertembakauan. Dikarenakan penurunan produksi dan konsumsi SKT dapat berimbas kepada matinya industri kecil menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi, jumlah pabrik rokok terus mengalami pengurangan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KNPK Menolak Simplifikasi Tarif Cukai Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

\n

Kebijakan PMK No 156\/2018 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) sudah sesuai dengan kebutuhan Industri Hasil Tembakau nasional. Di dalam PMK ini struktur golongan tarif cukai memakai pedoman 10 layer tarif cukai. 
<\/p>\n\n\n\n

Hembusan isu untuk melanjutkan simplifikasi tarif cukai dan juga produksinya sedang digemakan oleh beberapa kalangan, salah satunya datang dari kelompok antirokok. Argumentasi yang dilontarkan oleh mereka adalah simplifikasi tarif cukai dan produksi dilaksanakan agar harga rokok jadi lebih mahal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai Rokok 2019 Tidak Naik dan Simplifikasi Ditunda, KNPK: Langkah Pemerintah Sudah Tepat<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentu saja argumentasi tersebut tidak tepat dengan kondisi dan situasi Industri Hasil Tembakau nasional, dikarenakan Indonesia memiliki karakteristik produk hasil tembakau yang berbeda dengan negara-negara lainnya. Indonesia memiliki kretek sebagai produk khas hasil tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam kebijakan tarif cukai dan produksinya, kretek jelas harus dibedakan dengan Sigaret Putih Mesin atau rokok putih. Selain secara bahan baku berbeda, Sigaret Putih Mesin juga didominasi oleh perusahaan multinasional.\u00a0<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sendiri merupakan produk khas asli Indonesia yang rantai produksi dari hulu ke hilirnya dikerjakan di dalam negeri dan diolah oleh anak bangsa. Sehingga, kretek perlu dibedakan perlakuannya dengan rokok putihan. Dalam hal ini negara memang sudah seharusnya memberikan proteksi kebijakan terhadap kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Saat ini trend produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Jika kebijakan simplifikasi cukai dan produksi diterapkan, maka rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) produksinya akan naik, sementara itu produksi SKT akan mengalami penurunan yang signifikan.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, produksi SKT sejak periode 2011 sampai 2017 terus menurun sebesar 5,5% per tahun. Data penurunan tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dan stakeholder pertembakauan. Dikarenakan penurunan produksi dan konsumsi SKT dapat berimbas kepada matinya industri kecil menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi, jumlah pabrik rokok terus mengalami pengurangan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KNPK Menolak Simplifikasi Tarif Cukai Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Padahal, SKT adalah industri yang menyerap tenaga kerja paling besar ketimbang jenis-jenis hasil tembakau lainnya. Industri ini adalah industri padat karya yang menaungi hajat hidup ribuan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Selain mengancam eksistensi kretek, simplifikasi juga dapat meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini bukan berdasarkan asumsi semata. Penggabungan struktur cukai tersebut tentu akan berdampak langsung pada struktur persaingan dan keberlanjutan Industri Hasil Tembakau, terutama golongan menengah kecil.
<\/h4>\n\n\n\n

Simplifikasi tarif dan produksi punya potensi memperkuat karakter oligopolistik. Menghabisi industri kecil dan memperkuat pemain besar. Jika persaingan hanya diisi oleh pemain besar, maka akan muncul peredaran rokok ilegal yang disebabkan tertutupnya persaingan sehat bisnis rokok di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Apalagi ditambah dengan kondisi kenaikan tarif cukai yang eksesif oleh pemerintah setiap tahunnya. Konsumen akan dihadapi pada pilihan konsumsi produk yang terbatas dengan harga yang mahal. Maka, konsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan bagi konsumen. Jika pasar konsumennya sudah terbentuk, produksi rokok ilegal akan marak beredar.
<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal yang disebutkan di atas bukanlah ancaman semata, tapi sudah pasti akan terjadi jika simplifikasi tarif cukai dan batasan produksi diterapkan oleh pemerintah. Simplifikasi jelas akan mematikan Industri Hasil Tembakau dan menyebabkan munculnya persaingan usaha tidak sehat di kalangan Industri Hasil Tembakau, alias akan adanya oligopoly yang bertentangan dengan hukum di Indonesia, yang menolak iklim persaingan usaha tidak sehat.
<\/p>\n","post_title":"Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"matinya-kretek-akibat-simplifikasi-cukai-dan-batasan-produksi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-30 14:59:19","post_modified_gmt":"2019-07-30 07:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5893","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5885,"post_author":"855","post_date":"2019-07-25 14:59:44","post_date_gmt":"2019-07-25 07:59:44","post_content":"\n

Sejak masuknya produk alternatif tembakau pada rekomendasi Munas Ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Februari 2019 lalu, kini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU getol menyuarakan hal tersebut kepada publik. Tetapi sayang, Lakpesdam gagal dalam memahami produk alternatif tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Produk tembakau alternatif yang besar beredar di pasar indonesia adalah rokok elektrik atau vape. Banyak orang yang kemudian beralih ke vape karena kencangnya kampanye, \u201crokok lebih sehat ketimbang rokok konvensional\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Lakpesdam PBNU sendiri, sebagaimana yang ramai diberitakan media, produk tembakau alternatif perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak karena memberikan manfaat (kemaslahatan) kepada perokok dewasa. Ketua Lakpesdam PBNU, Kiai Rumadi Ahmad, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan hasil pengembangan dari inovasi teknologi di industri hasil tembakau (IHT). 
<\/p>\n\n\n\n

Produk ini, menurut riset ilmiah di negara maju, berpotensi mengurangi zat kimia berbahaya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional. Dengan manfaat besar itu, produk tembakau alternatif mendapatkan dukungan positif dari NU (lebih tepatnya Lakpesdam) sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi demi kemaslahatan publik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan sederhananya, apakah benar produk alternatif tembakau lebih sehat atau tidak lebih berbahaya ketimbang rokok konvensional?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Para peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai \u2018popcorn lung\u2019. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/p>\n\n\n\n

Ada juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Penelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, rokok elektrik rentan meledak. Ledakan ini membahayakan penggunaka rokok elektrik. Seperti yang dialami remaja asal Nevada, Vape meledak<\/em><\/strong><\/a> saat sedang digunakan, menghancurkan sebagian besar gigi serta melubangi rahangnya.<\/p>\n\n\n\n

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, impor cairan rokok elektrik atau vape<\/em> harus mengantongi rekomendasi izin dari tiga instansi dan mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Alasannya, rokok elektrik lebih berbahaya ketimbang rokok biasa.<\/p>\n\n\n\n

Dia menjelaskan, cairan rokok elektrik impor lebih banyak mudaratnya. Sebab, selain bisa dicampur dengan zat kimia lain, barang impor tersebut juga tidak diproduksi di Indonesia dan tidak menyerap bahan baku tembakau dari petani domestik.<\/p>\n\n\n\n

\"Apa benefitnya untuk kita, tidak dibikin di sini, tidak ada urusan dengan petani, bahkan beberapa negara maju lebih ekstrem melarang karena (rokok elektrik) mengganggu kesehatan. Jadi, perokok elektrik berubah sajalah menjadi perokok biasa,\" tegas Enggartiasto. (Liputan6.com)<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Di sisi yang lain, Lakpesdam berpendapat produk alternatif tembakau dapat membantu menjaga kelangsungan mata pencaharian warga Nahdliyin. Tentu saja asumsi ini dibangun atas produk alternatif tembakau dapat menyerap tembakau yang banyak ditanam oleh warga NU.<\/p>\n\n\n\n

\"Kehidupan warga NU sangat erat kaitannya dengan tembakau. Bukan saja banyak warga NU yang merokok, tetapi juga ada mereka yang kehidupannya bergantung pada tembakau. Adanya produk tembakau alternatif justru turut membantu dalam menjaga kelangsungan mata pencaharian warga NU karena bahan dasarnya bergantung pada tembakau,\" kata Kiai Rumadi, yang dikutip Sindo News 19 Juli lalu.<\/p>\n\n\n\n

Asumsi ini jelas tidak tepat.  Belum ada data komprehensif yang menunjukkan bahwa rokok elektrik menyerap besar tembakau petani lokal. Sejauh ini, liquid yang digunakan oleh rokok elektrik masih impor dan tidak menggunakan tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah secara ringkas. Sektor hulu dari IHT adalah perkebunan tembakau dan cengkeh. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi, sementara perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Mayoritas lahannya milik rakyat dan dibudidayakan sepenuhnya oleh rakyat, yang menunjukkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi mereka. Keduanya memang bukan komoditas pangan, tetapi sifat-sifat polikulturnya, membuat keduanya bisa menopang ketahanan pangan. <\/p>\n\n\n\n

Sebesar 93 persen produk IHT adalah kretek. Sisanya adalah cerutu, farmasi, produk makanan, kosmetik, dan lainnya. Dari hulu hingga hilir, IHT menyerap jutaan tenaga kerja. Dengan demikian, IHT telah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, menekan pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat IHT sebagai industri strategis nasional adalah sektor perekonomian yang paling tahan di saat krisis. <\/p>\n\n\n\n

Melalui penerimaan cukai, IHT turut memberikan sumbangan sebesar 8,92 persen terhadap APBN. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan pajak dari sektor minyak dan gas (migas) yang hanya 3,03 persen.<\/h4>\n\n\n\n

Keberadaan IHT memberi sumbangsih besar pada penyerapan tenaga kerja mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan menyerap 2 juta petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh (on farm). Belum termasuk serapan tenaga kerja tidak langsung, karena di sektor hulu terdapat ragam pekerjaan lain17. <\/p>\n\n\n\n

Di sektor manufaktur dan perdagangan menyerap 600.000 karyawan pabrik dan 2 juta pedagang ritel (off farm). Totalnya 6,1 juta tenaga kerja yang bergantung langsung terhadap industri ini. Dari total serapan tenaga kerja yang terlibat secara on farm dan off farm, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam IHT dapat memberi penghidupan kepada 30,5 juta orang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika produk alternatif tembakau mematikan rokok konvensional, maka yang terjadi adalah pembunuhan massal terhadap gantungan hidup, tidak hanya Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokok, pedagang asongan dan pendapatan besar negara.<\/p>\n\n\n\n

Yang lebih menggelikan lagi, berdasar asumsi \u2018tidak lebih berbahaya\u2019, arah biduk menunjuk pada tarif cukai. Bahwa produk alternatif seperti rokok elektrik harus dikenakan cukai lebih rendah ketimbang rokok konvensional yang dinilai lebih berbahaya. Tentu saja sikap ini menunjukkan tidak pro terhadap industri hasil tembakau yang dari hulu hingga hilirnya berdaulat dan memberikan kedaulatan untuk bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Kita sama-sama tau, Lakpesdam adalah salah satu\u00a0 bagian dari NU yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Dengan mendorong produk alternatif tumbuh subur di Indonesia, maka secara tidak langsung Lakpesdam membunuh nilai kebudayaan dalam Industri Hail Tembakau, utamanya Sigaret Kretek Tangan (SKT).\u00a0<\/p>\n\n\n\n

<\/a><\/p>\n\n\n\n

<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div>
<\/div>
<\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>
Lihat postingan ini di Instagram<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div><\/div>
<\/div>
<\/div>
<\/div><\/div><\/div><\/a>

Sobat Kretekus, kemarin Kretekmin dapat kiriman video dari Sekpri Ketum PBNU, Mas @sofwanerce . Dalam video tersebut, Kiai Said khidmat melinting tembakau dan cengkeh. Kretekmin jadi ingat salah satu tulisan Kiai Said pada prolog buku Hitam Putih Tembakau: . . "Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertembakauan di Indonesia mempunyai cerita panjang. Pada cerita panjang tersebut, pemerintah ikut serta menjadi aktor, bahkan dalam konteks tertentu menjadi sutradara. . . Pemerintah mestinya tidak lagi menambah cerita panjang kegetiran dunia pertembakauan di Indonesia melalui kebijakan dan segala peraturannya yang kontroversial. Masyarakat kelas bawah, terutama buruh rokok dan petani tembakau, sudah lama menginginkan ketenangan dan kesejahteraan hidup." . . #kretek #rokok #tembakau #kretekus #akukretekus<\/a><\/p>

Sebuah kiriman dibagikan oleh Boleh Merokok<\/a> (@boleh_merokok) pada

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n